Rudal Iran Serbu Kota Nuklir Dimona Israel, Apakah Teheran Terapkan ‘Doktrin Gila’ AS-Zionis?

loading…

Penampakan kerusakan di sekitar Dimona, kota yang dikenal sebagai pusat nuklir Israel, setelah serangan rudal Iran. Foto/Stav Levaton/Times of Israel

TEL AVIV – Rudal Iran berhasil menyerang Dimona, daerah yang dikenal sebagai kota nuklir Israel, pada 21 Maret. Ini menandakan langkah Teheran yang menerapkan doktrin mirip yang dipakai Amerika Serikat (AS) dan Israel—dikenal sebagai “doktrin madman” atau “doktrin orang gila”—setelah situs Natanz di Iran diserang lebih dulu.

Banyak titik di kota Dimona terbakar parah pada Sabtu malam, setelah serangan rudal Iran melukai lebih dari 20 warga Israel dan menyebabkan sebuah gedung roboh.

Baca Juga: Mossad Gagal Gulingkan Rezim Iran, PM Israel Benjamin Netanyahu Frustrasi

Channel 12 Israel melaporkan 21 orang terluka di 12 lokasi, sementara layanan penyelamatan mengonfirmasi sebuah bangunan runtuh akibat hantaman langsung atau hampir langsung.

Sirene berbunyi keras di area yang luas, membentang dari Naqab di selatan hingga Galilea di utara, saat rudal dan pecahan peluru menghantam beberapa tempat.

Dimona bukan kota biasa. Kota ini berada dekat dengan Pusat Riset Nuklir Negev, yang secara luas dianggap sebagai jantung program senjata nuklir Israel.

Terletak jauh di gurun Naqab, fasilitas ini telah lama dilihat sebagai salah satu situs strategis terpenting dan sensitif Israel, berkaitan dengan produksi plutonium dan kemampuan senjata jangka panjang.

Konteks inilah yang memberikan arti pada serangan tersebut. Serangan Iran ke Dimona terjadi beberapa jam setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap fasilitas nuklir Natanz Iran di hari yang sama.

Menurut laporan media internasional dan media lokal Iran, seperti dikutip Reuters, Selasa (24/3/2026), kompleks pengayaan Natanz di provinsi Isfahan menjadi target pada pagi hari 21 Maret. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi adanya kerusakan namun tidak ada kebocoran radiasi.

MEMBACA  Cuaca yang Buruk Menghambat Pendaratan Pesawat, Kampanye di Ruteng NTT Terlambat.

Rangkaian peristiwa ini bukan kebetulan. Natanz diserang di pagi hari; Dimona diserang setelahnya di hari yang sama. Bahkan tanpa rincian waktu yang tepat, kedekatan waktunya menunjukkan logika operasional yang jelas: fasilitas nuklir Iran dibalas dengan target yang berdekatan dengan nuklir Israel dalam hitungan jam.

Sejak awal perang pada 28 Februari 2026, Iran telah konsisten mengikuti pola ini. Setiap eskalasi dibalas dengan eskalasi, dan setiap serangan terhadap infrastruktur strategis dibalas dengan tekanan pada target strategis yang setara.

Tinggalkan komentar