Jakarta (ANTARA) – Kota Caracas jadi kacau pada 3 Januari lalu, ketika Pasukan Khusus AS menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah operasi berani yang mengguncang komunitas internasional.
Atas perintah Presiden Donald Trump, pasangan itu dibawa ke New York, di mana mereka kini menghadapi tuduhan federal terkait keterlibatan dalam perdagangan narkoba dan hubungan dengan geng yang ditetapkan sebagai organisasi teroris.
Operasi ini langsung dapat kecaman dari berbagai pemerintahan di dunia. Negara-negara tetangga Amerika Latin, serta sekutu lama seperti Rusia dan China, menyebut serangan AS sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Indonesia turut menyuarakan keprihatinan, memperingatkan bahwa serangan ini bisa jadi preseden buruk bagi hubungan internasional dan melemahkan prinsip kedaulatan serta diplomasi.
Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Indonesia, Indonesia menekankan bahwa masyarakat internasional harus menghormati hak dan kehendak rakyat Venezuela untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
Kemlu mendorong semua pihak untuk "melakukan dialog dan menahan diri serta sepenuhnya menghormati hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip yang tercantum dalam Piagam PBB dan hukum kemanusiaan internasional."
Indonesia juga menyerukan perlindungan warga sipil, menyatakan keselamatan dan kesejahteraan mereka harus jadi prioritas utama di tengah ketegangan yang meningkat.
Menanggapi gejolak politik ini, kepentingan utama Indonesia adalah melindungi warganya di Venezuela.
Per Senin (5 Januari), Kedutaan Besar Indonesia di Caracas mengonfirmasi keamanan 37 WNI di Venezuela, seiring situasi yang perlahan stabil setelah Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara Venezuela.
Kedutaan juga telah menyiapkan rencana kontingensi untuk menjamin keselamatan WNI jika situasi keamanan di Venezuela memburuk lagi.
Dari sisi ekonomi, intervensi AS di Venezuela berkontribusi pada pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 15 poin (0,09 persen) pada Senin, dari Rp16.725 per USD menjadi Rp16.740 per USD.
Konflik ini mempengaruhi penjualan Surat Berharga Negara (SBN), khususnya di kalangan investor asing, dan meningkatkan imbal hasil karena investor beralih ke aset safe-haven seperti emas dan dolar AS, menurut Rully Nova, analis Bank Woori Saudara.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai eskalasi politik AS-Venezuela belum berdampak signifikan pada ekonomi Indonesia, khususnya pasar saham.
Menurutnya, reaksi pasar justru menunjukkan sentimen positif. "Dari sudut pandang saya, agak mengada-ada. Kalau lihat pasar saham, malah naik, jadi mereka lihatnya agak positif, ini sebenarnya agak aneh," ujarnya pada Senin.
Dari perspektif makroekonomi, Purbaya menyatakan dampak potensial dari eskalasi AS-Venezuela terhadap Indonesia relatif terbatas, mengingat Venezuela sudah lama tidak aktif di pasar minyak global karena kapasitas produksinya yang terbatas.
Pengamat pasar modal Indonesia, Reydi Octa, mengatakan stabilitas makroekonomi domestik mendukung kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah konflik ini. "Penguatan IHSG hari ini lebih didorong sentimen domestik dan regional, bukan konflik AS-Venezuela," catatnya pada Senin.
Dia menjelaskan, pelaku pasar memandang konflik antara kedua negara belum berdampak sistemik pada pasar keuangan global, sehingga tidak memicu aksi jual yang signifikan.
Secara domestik, IHSG ditopang stabilitas makroekonomi, optimisme awal tahun, dan rotasi ke saham sektor energi dan emas yang diuntungkan dari ketidakpastian global.
Tingkatkan Produksi Minyak
Setelah menculik Maduro, Trump mengatakan AS akan "mengelola" Venezuela hingga transisi yang aman terjadi dan mengambil kendali atas cadangan minyak besar negara itu.
Presiden AS itu ingin perusahaan minyak Amerika menginvestasikan miliaran dolar ke Venezuela, yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, untuk memobilisasi sumber daya yang sebagian besar belum dimanfaatkan.
Trump menyebut perusahaan AS akan memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang rusak parah dan mulai menghasilkan pendapatan bagi negara itu.
Dengan perkiraan 303 miliar barel, Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Tapi jumlah minyak yang benar-benar diproduksi negara itu saat ini sangat kecil. Pada November, Venezuela memproduksi sekitar 860.000 barel per hari, menurut laporan terbaru International Energy Agency.
Angka itu hanya sepertiga dari produksi 10 tahun lalu dan menyumbang kurang dari satu persen konsumsi minyak dunia.
Menanggapi perkembangan ini, Indonesia berupaya menambah cadangan minyak nasional dan mengoptimalkan produksi sebagai langkah antisipasi, menurut juru bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia.
Langkah meningkatkan produksi minyak nasional termasuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dan teknik produksi, seperti fracking, enhanced oil recovery (EOR), dan pengeboran horizontal.
Selain itu, pemerintah menawarkan reformasi fiskal, perizinan dipercepat, dan peningkatan investasi eksplorasi di wilayah frontier untuk menarik investor hulu migas, lanjutnya.
Anggia mengatakan pemerintah juga mengejar peningkatan produksi dengan mengaktifkan kembali 4.500 sumur yang menganggur, sambil terus memantau situasi di Venezuela.
Saat ini, pemerintah belum melihat dampak langsung dari situasi di Venezuela pada pasokan atau harga BBM, mengingat Indonesia tidak mengimpor minyak mentah dari negara tersebut.
Konflik ini tidak berdampak signifikan pada harga minyak global atau perdagangan minyak internasional, mengingat kondisi Venezuela berbeda dengan produsen minyak di Timur Tengah, jelas Anggia.
Konflik di Timur Tengah cenderung membuat harga minyak sangat fluktuatif, karena kawasan itu merupakan markas banyak negara anggota OPEC, tambahnya.
Serangan AS ke Venezuela sejauh ini belum mempengaruhi operasi PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), subholding hulu internasional dari BUMN energi Pertamina.
PIEP memiliki 71,09 persen saham perusahaan minyak dan gas asal Prancis, Maurel & Prom (M&P), yang memiliki aset di Venezuela.
Sebagai langkah pencegahan, perusahaan terus berkoordinasi dengan KBRI Caracas untuk menjaga keselamatan pekerja dan memastikan operasi normal, menurut Manager Hubungannya, Dhaneswari Retnowardhani.
PIEP aktif mengakuisisi dan mengelola lapangan minyak dan gas di berbagai negara untuk mendukung kebutuhan energi domestik dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain di Venezuela, Pertamina memiliki aset migas di 10 negara lainnya.
Dengan terus memantau situasi secara seksama, Indonesia harus mampu mengambil langkah cepat dan tepat untuk mengantisipasi dampak yang timbul dari perkembangan geopolitik, termasuk gejolak di Venezuela saat ini.
Berita terkait: Indonesia sees no significant oil market impact from Venezuela unrest
Berita terkait: RI boosts national oil production to anticipate impact from Venezuela
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026