Jakarta (ANTARA) –
Indonesia dan Jepang telah setuju untuk memperkuat kolaborasi di bidang kehutanan, konservasi keanekaragaman hayati, serta inisiatif iklim setelah pertemuan tingkat menteri di Tokyo pada Selasa.
Menteri Kehutanan Indonesia Raja Juli Antoni bertemu dengan Menteri Keamanan Ekonomi dan Strategi Pertumbuhan Jepang Minoru Kiuchi, menegaskan kembali komitmen kedua negara untuk kerja sama lingkungan yang lebih mendalam.
“Pertemuan ini menegaskan komitmen kuat Indonesia dan Jepang untuk memperluas kerja sama strategis di bidang kehutanan, konservasi biodiversitas, serta kontribusi nyata bagi upaya global dalam mengatasi perubahan iklim,” kata Raja dalam pernyataan dari Jakarta.
Kiuchi menyebut Indonesia sebagai mitra strategis, menekankan pentingnya tidak hanya secara bilateral tetapi juga di kawasan Asia-Pasifik, terutama dalam kehutanan dan konservasi.
Kedua pihak menyambut baik nota kesepahaman dengan Prefektur Shizuoka tentang perlindungan satwa liar, yang berfokus pada komodo—hewan yang sangat populer di Jepang dan sering dibandingkan dengan panda.
Jepang merencanakan upacara penyambutan khusus untuk komodo serta mendukung percepatan pertukaran satwa antara iZoo di Shizuoka dan Kebun Binatang Surabaya, dengan perjanjian yang ditargetkan selesai pada April 2026.
Raja menegaskan komitmen Indonesia untuk mempercepat transfer komodo, guna memperkuat kerja sama konservasi dan keterlibatan publik melalui pertukaran satwa liar.
Ia juga menyoroti proyek-proyek jangka panjang yang didukung oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dan menyerukan peningkatan kolaborasi, termasuk implementasi yang lebih cepat dari Joint Crediting Mechanism (JCM) di sektor kehutanan Indonesia.
Menteri itu lebih lanjut mengusulkan inisiatif “taman bersaudara” yang menghubungkan Taman Nasional Fuji-Hakone-Izu dengan taman-taman nasional Indonesia untuk meningkatkan pertukaran pengetahuan, manajemen konservasi, dan keberlanjutan ekosistem.
Kemitraan ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola, kerja sama teknis, serta kontribusi bersama bagi upaya mitigasi iklim global.
Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira, Martha Herlinawati Simanjunt
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026