loading…
Mantan putra mahkota Iran, Reza Pahlavi, merasa kecewa karena perang gabungan AS dan Israel gagal menjatuhkan rezim Republik Islam Iran. Foto/The Economist/Greg Kahn
WASHINGTON – Reza Pahlavi, anak dari shah terakhir Iran Mohammad Reza Pahlavi, mengungkapkan kekecewaannya setelah perang bersama Amerika Serikat dan Israel tidak berhasil menumbangkan pemerintahan di Teheran. Dia menyatakan bahwa rakyat Iran masih harus membebaskan diri dari penguasa mereka.
Perasaan kecewa ini dia sampaikan setelah Washington dan Teheran menyetujui gencatan senjata untuk dua minggu.
"Hal yang tetap konstan dalam perjuangan kita sebagai orang Iran adalah membebaskan diri dari rezim ini," kata mantan putra mahkota yang tinggal di Amerika itu kepada saluran penyiaran Prancis, LCI, pada Rabu.
Baca Juga: Iran Tutup Lagi Selat Hormuz setelah 100 Rudal Iran Bunuh 254 Orang di Lebanon
Pahlavi, yang ayahnya digulingkan oleh revolusi tahun 1979, telah beberapa kali mengatakan bahwa dia siap memimpin masa transisi jika Republik Islam Iran jatuh dalam perang melawan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, dia hanya mewakili salah satu dari beberapa kelompok diaspora Iran, yang sering kali terlibat perselisihan yang tajam.
Pahlavi menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang minggu lalu mengatakan bahwa perang tersebut telah mencapai "perubahan rezim" di Iran. "Amerika Serikat sedang berhadapan dengan orang-orang yang berbeda dari siapapun yang pernah dihadapi sebelumnya," kata Trump waktu itu.