Senin, 4 Mei 2026 – 20:06 WIB
VIVA – Kemenangan dramatis 3-2 atas Liverpool di Old Trafford seharusnya jadi momen penuh euforia buat Manchester United. Hasil ini memastikan Setan Merah kembali ke Liga Champions—sebuah pencapaian besar setelah beberapa musim inkonsisten.
Dua gol dari Matheus Cunha dan Benjamin Sesko sempat membawa tuan rumah unggul nyaman 2-0 di babak pertama. Tapi, Liverpool bangkit dan menyamakan kedudukan hanya dalam 10 menit setelah jeda.
Ditengah tensi tinggi, Kobbie Mainoo muncul sebagai pahlawan. Golnya di menit ke-77 memastikan kemenangan sekaligus mengunci posisi MU di lima besar Premier League musim ini.
Tapi, cerita besar di Old Trafford hari itu bukan cumapada hasil di lapangan.
Sorotan justru beralih ke sosok legendaris klub, Sir Alex Ferguson. Mantan manajer ikonik tersebut dikabarkan mengalami masalah kesehatan saat berada di stadion sebelum pertandingan dimulai.
Ferguson dikab udah berada di Old Trafford sekitar satu jam sebelum kick-off. Namun di tengah permainan, ada info kalau kondisinya menurun. Tim Medis klub langsung memberikan penanganan sebelum akhirnya ia dibawa ambulans ke rumah sakit terdekat untuk pemerikasaan lebih lanjut.
Info itu cepat menyebar ke seluruh stadion—dan seketika ubah suasan. euforia kemenangan mulai meredup, tergantikan oleh kekhawatiran terhadap sosok yang begitu berarti bagi klub.
Pelatih interim MU, Michael Carrick, gak bisa sembunyikan perasaannya saat konferensi pers. Pria yang dulu pernah tujuh musim dilatih Ferguson itu terlihat sangatterpukul.
“Saya belum dapat kabar terbaru, jadi kurang tahu kondisi beliau sekarang. Saya dengar itu sebelum laga, dan sudah cukup mempengaruhi mental saya,” ucap Carrick.
“Saya hanya berharap beliau baik-baik aja. Kami semua doain yang terbaik.”
Ungkapan Carrick terasa banget bedanya dari jawaban formal. Ada perasaan yang sukar ditutupin—tanggapan tulus dari seseorang yang akrab banget sama Ferguson.
Ditengah prestasi besar bashing MU kembali ke Liga Champions, perhatian justru nertuju ke satu moment kesehatan sosok yang menjadi lambang kejaayan klub.
Hari yang awalnya tanpa perayaan menjadi ingetan bahwa di balik skor, stats, sampe piala, still ada halam yang lebihutama. Iya kan?