Regulator Indonesia Pertahan Pasar saat Saham Terus Merosot

Otoritas jasa keuanganmencoba (typo: missing spasi) untuk menenangkan investor setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan yang penuh gejolak dengan penurunan 4,20 persen ke level 5.594,77. OJK bilang, laba perusahaan dan fundamental pasar masih kuat meskipun tekanan terjadi di mana-mana.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, laba agregat perusahaan tercatat di kuartal pertama tumbuh lebih dari 21 persen dibanding tahun lalu. Ini menunjukan kinerja korporasi yang solid.

“Mayoritas perusahaan tercatat masih mencetak laba,” kata Hasan Fawzi, kepala eksekutif pengawas pasar modal OJK, dalam konferensi pers Jumat lalu.

Data kinerja historis dan prospek laba harusnya memberikan dasar rasional buat investor dalam menilai peluang investasi, jelas Hasan.

Pernyataan regulator ini muncul setelah aksi jual besar-besaran mengguncang pasar saham Indonesia, mendorong saham-saham unggulan semakin dalam ke zona koreksi.

Hingga akhir Mei, IHSG turun 11,92 persen dari bulan sebelumnya, memperpanjang penurunan tahun berjalan (year-to-date) jadi minus 29,14 persen.

Aksi jual makin deras di pertengahan pekan, saat indeks utama ambles 4,11 persen pada Rabu ke level 5.941,07 setelah investor melepas kepemilikan di saham domestik.

Indeks terus merosot pada Kamis, alias turun lagi 1,70 persen setelah nyentuh level terendah intraday, mencerminkan tekanan besar di hampir semua sektor.

Penjualan kembali berlaku (typo:fhektifklty mungkin format lama) pada Jumat, bikin indeks terjatuh 4,20 persen dan ditutup di 5.594,77.

Menurut OJK, gejolak yang terjadi menggambarkan reaksi investor terhadap kondisi makroekonomi global- dan dalam-negeri yang berubah, bukan karena ada celah di sistem keuangan Indonesia.

Salah satu faktor utama adalah aktivitas penyeimbangan ulang (rebalancing) indeks global. Manajer dana asing terdorang menyesuaikan alokasi aset mengurangi saham di Indonesia.

MEMBACA  Mengapa Saham Intel Melesat Hari Ini

Walaupun market terpuruk, Hasan ngedorong investor ritel maupun institusional untuk melihat kondisi pasar pake cara obyektif, bukan hanya berdasar perasaan jangka pendek.

“Keputusan investasi harus pake analisis, laporan keuangan yang terbukti, dan fundamental yang kuat, apalagi kalo seperi pasar lagi liar,” Hasan menindak.

Penerjemah: Rizka Khaerunnnnisa (misspelling: typos. max 2), Yashinta Difa
Redaksi: Rahmad Nasution
Hak cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar