Rabu, 4 Februari 2026 – 20:38 WIB
Saif al-Islam Khadafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi yang lama dianggap sebagai penerus salah satu rezim terpanjang di dunia Arab, dilaporkan tewas ditembak di Libya barat.
Saif al-Islam dibunuh pada hari Selasa, 3 Februari 2026, di rumahnya di kota Zintan, barat daya Tripoli. Kantor politiknya menyatakan dia meninggal setelah empat pria bersenjata menyerbu rumah, mematikan kamera pengawas, dan menembaknya. Mereka menggambarkan kejadian ini sebagai sebuah pembunuhan yang direncanakan.
Menurut laporan The New Arab, Rabu (4/2/2026), Kejaksaan Agung Libya kemudian mengonfirmasi bahwa pemeriksaan forensik menunjukkan ia meninggal karena luka tembak. Dikatakan penyelidikan sedang berjalan untuk mengidentifikasi tersangka dan menyiapkan kasus pidana.
Sampai saat ini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab, dan belum ada penangkapan yang diumumkan. Kelompok-kelompok bersenjata di dalam dan sekitar Zintan menyangkal keterlibatan mereka, termasuk milisi Brigade 444 yang berafiliasi dengan kementerian pertahanan di Tripoli. Mereka menyatakan "tidak memiliki pasukan di Zintan" dan tidak mendapat perintah untuk mengejarnya.
Sumber lokal mengatakan unit keamanan yang sebelumnya bertugas melindunginya menutup area tersebut setelah pembunuhan. Namun, masih belum jelas siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas keamanannya atau bagaimana para penyerang bisa mendapatkan akses.
Beberapa hari sebelum kematiannya, sebuah rekaman beredar online yang digambarkan oleh pendukungnya sebagai "pesan terakhir" Saif al-Islam. Dalam audio tersebut, ia dikabarkan mengkritik tatanan politik Libya pasca-2011. Ia menuduh utusan asing melakukan kontrol penuh atas negara itu dan mempertanyakan apa yang sudah dicapai setelah bertahun-tahun pertumpahan darah dan pengorbanan.
Ia berbicara tentang miliaran dolar yang hilang, ribuan orang tewas, dan Libya yang tidak bisa bertindak tanpa persetujuan kekuatan asing. The New Arab tidak dapat memverifikasi secara independen rekaman itu, yang tersebar luas di media berbahasa Arab dan memicu spekulasi tentang motif dan waktu pembunuhannya.
Sebelum pemberontakan 2011, Saif al-Islam luas dipandang sebagai wajah modern dari rezim ayahnya. Berpendidikan Barat dan fasih bahasa Inggris, ia menampilkan diri sebagai seorang reformis. Ia membantu memimpin pendekatan Libya dengan pemerintah Barat dan memainkan peran sentral dalam negosiasi mengenai perlucutan senjata nuklir serta kompensasi untuk korban pemboman Lockerbie.
Citra itu hancur selama pemberontakan ketika ia menjadi salah satu pembela paling gigih bagi pemerintahan ayahnya. Ia mengancam para demonstran dan memperingatkan akan terjadinya perang saudara.
Halaman Selanjutnya