Jakarta (ANTARA) – Rose Mini Agoes Salim, seorang guru besar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menekankan pentingnya rasa empati dan pengendalian diri untuk mencegah oversharing, yaitu tindakan membagikan informasi pribadi yang berlebihan di media sosial.
Psikolog yang akrab disapa Romi ini mengatakan, tidak semua hal pantas untuk dibagi ke publik, terutama detail yang berkaitan dengan kehidupan pribadi.
"Kalau yang dibagikan itu konten edukasi, penelitian, atau ceramah, mungkin masih berdampak bagi orang lain. Tapi kalau sudah bersifat pribadi, tidak perlu diunggah terlalu banyak. Ada hal-hal yang secara moral harus membatasi seseorang untuk mengucapkannya," kata Romi kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Dia mencatat bahwa segala informasi yang dibagikan di media sosial bisa memicu berbagai persepsi di antara audiens. Dampaknya juga bisa meluas hingga ke hubungan personal.
"Itu juga bisa mempengaruhi hubungan dengan orang-orang tertentu karena apa yang dibagikan di media sosial. Oversharing bisa berakibat negatif karena tidak semua orang pasti menerima atau setuju dengan apa yang dibagikan," ujarnya.
Romi menjelaskan, orang yang overshare seringkali tidak sadar akan perilakunya sendiri. Salah satu pemicunya adalah respons positif yang mereka dapatkan secara daring, seperti perhatian dari audiens, like, atau komentar yang menimbulkan rasa senang.
"Kenapa orang tidak sadar saat oversharing? Karena kadang mereka dapat respons yang menyenangkan dan punya audiens yang memperhatikan mereka," jelasnya.
Dia menambahkan, perasaan dihargai atau diperhatikan bisa mendorong individu untuk terus membagikan informasi tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
Oleh karena itu, Romi menyarankan pengguna media sosial agar lebih berhati-hati dengan setiap unggahan. Setiap konten memiliki dua sisi, kelebihan dan kekurangan, sehingga penting untuk menahan diri sebelum membagikan sesuatu kepada publik.
Dia juga menekankan perlunya stimulasi moral agar individu dapat membedakan benar dan salah, termasuk saat menyatakan pendapat di media sosial.
Dalam konsep moral, ada tujuh kebajikan penting yang harus menuntun perilaku, di antaranya empati, pengendalian diri, dan hati nurani.
Menurut dia, empati membantu seseorang mempertimbangkan dampak ucapan mereka pada orang lain. Pengendalian diri berperan untuk menahan keinginan mengungkap segala hal ke publik, sementara hati nurani menentukan apakah suatu tindakan itu benar atau salah.
"Tujuh kebajikan pokok itu harus ada di setiap manusia dan sudah ada, tapi perlu distimulasi agar kita bisa lebih memahaminya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, contohnya saat mengambil keputusan, termasuk saat mengunggah konten di media sosial," pungkas Romi.
Berita terkait: LPDP beri sanksi 44 penerima, perintahkan 8 bayar dana beasiswa
Berita terkait: Yudhoyono bicara soal pentingnya pengendalian diri
Penerjemah: Sri Dewi Larasati, Primayanti
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026