Peta Industri Otomotif Asia Tenggara Bergeser, Dominasi Mobil Jepang Mulai Pudar

Jumat, 9 Januari 2026 – 23:43 WIB

Pabrikan mobil Jepang mulai kehilangan pangsa pasar di kawasan Asia Tenggara. Posisi yang selama puluhan tahun sangat dominan kini mulai tergerus. Ini terjadi seiring agresifnya ekspansi merek-merek China yang fokus pada mobil listrik (EV) dengan harga lebih terjangkau.

Baca Juga:
Pembeli Mobil Masih Pilih Cara Tradisional Ketimbang Digital

Kondisi ini paling terasa di Thailand, yang selama ini dikenal sebagai basis produksi utama pabrikan Jepang di Asia Tenggara. Sejak 2022, merek China seperti BYD masuk secara masif. Mereka membangun pabrik lokal dan menawarkan EV berharga kompetitif.

Dikutip dari The Daily Star, dampaknya pangsa pasar sembilan merek Jepang di Thailand turun signifikan jadi 69,8 persen pada 10 bulan pertama 2025. Angka ini merosot 6,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga:
Kamboja Ekstradisi Konglomerat Chen Zi ke China, Dalang Jaringan Scam Global

Padahal, sepanjang 2010-an, pabrikan Jepang nyaris menguasai 90 persen pasar Thailand. Bahkan pada 2023, pangsa pasar mereka sudah jatuh ke 77,8 persen dan berpotensi turun di bawah 70 persen untuk sepanjang 2025.

Di ajang Thailand International Motor Expo 2025, Toyota mencoba melawan tren ini dengan meluncurkan Hilux terbaru. Pikap yang sering disebut sebagai “mobil nasional” Thailand tersebut kini hadir dengan penyempurnaan mesin diesel yang lebih irit, sekaligus tambahan varian listrik.

Baca Juga:
Trump Yakin China Tidak Akan Merebut Taiwan Selama Ia Jadi Presiden AS

Presiden Toyota Motor Thailand, Noriaki Yamashita, menegaskan pihaknya ingin menjaga rantai pasok dengan cara mendongkrak penjualan.

Situasi serupa juga terjadi di Indonesia, yang menyumbang sekitar 30 persen pasar otomotif Asia Tenggara. Pangsa pasar pabrikan Jepang di Tanah Air turun di bawah 90 persen pada 2024, lalu kembali merosot menjadi 82,9 persen pada 10 bulan pertama 2025. Di Vietnam, persaingan antara merek Jepang dan pemain baru juga semakin ketat.

MEMBACA  Alasan Ganjar Tidak Ingin Bergabung dengan Pemerintah dalam Kontestasi untuk Mendapatkan Kursi

Masuknya mobil-mobil China menjadi faktor utama perubahan peta persaingan. Dengan harga EV yang lebih murah, pabrikan China berhasil merebut lebih dari 20 persen pasar Thailand. Mereka juga mulai serius bersaing di Indonesia dengan membangun fasilitas produksi lokal.

Tekanan ini membuat sejumlah merek Jepang mengurangi kapasitas produksi. Honda berencana menggabungkan dua pabrik mobilnya di Thailand menjadi satu lokasi mulai 2026. Mitsubishi Motors bahkan akan menghentikan produksi di satu dari tiga pabriknya pada 2027.

Halaman Selanjutnya

Dampaknya tak hanya dirasakan pabrikan, tetapi juga industri komponen. Dari sekitar 2.792 pemasok suku cadang Jepang di Asia Tenggara, hampir separuh berada di Thailand. Penurunan produksi membuat sebagian pemasok kesulitan bertahan.

Tinggalkan komentar