Jakarta (ANTARA) – Peningkatan aktivitas kegempaan terdeteksi di Gunung Merapi, yang masih berada pada Status Level III (Waspada), menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Juru bicara BNPB Abdul Muhari mengatakan pada hari Sabtu bahwa temuan ini sejalan dengan analisis dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) di Yogyakarta.
Pada periode 19 hingga 25 September, BPPTKG mencatat 81 gempa vulkanik dangkal, 644 gempa multiphase, 520 gempa guguran, dan sembilan gempa tektonik.
"Data kegempaan ini lebih tinggi dibandingkan minggu sebelumnya, menandakan suplai magma di dalam gunung berapi yang dinamis," ujar Muhari.
Dia mencatat bahwa pemantauan deformasi menggunakan alat EDM dan GPS menunjukkan kondisi yang stabil dengan hanya perubahan kecil pada jarak pengukuran.
BNPB mengingatkan masyarakat di daerah rawan untuk tetap siaga terhadap potensi awan panas dan aliran lava, terutama saat terjadi hujan.
Upaya mitigasi harus mencakup koordinasi yang erat antar lembaga untuk menyiapkan jalur evakuasi, tempat penampungan, logistik, dan peralatan pelindung, tambah Muhari.
Masyarakat disarankan untuk hanya mengikuti informasi terbaru dari Pos Pengamatan Gunung Merapi dan instansi resmi penanggulangan bencana agar terhindar dari informasi yang kurang tepat.
Berdasarkan analisis BPPTKG, potensi bahaya meliputi luncuran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya sejauh 5–7 kilometer, serta di sektor tenggara melalui Kali Woro hingga 3 km dan Kali Gendol hingga 5 km.
"Merapi masih mengalami erupsi efusif, tetapi dengan suplai magma yang berlanjut, ancaman awan panas masih ada," pungkas Muhari.
Berita terkait: Gunung Merapi luncurkan 88 guguran lava dalam seminggu
Berita terkait: Kubah lava bisa perluas radius erupsi Gunung Merapi
Penerjemah: Resinta Sulistiyandari
Editor: Anton Santoso
Hak Cipta © ANTARA 2025