Pergeseran Strategi AS dalam Perang Iran 2026: Pertanda Kekalahan?

loading…

Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews

Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)

Dalam setiap perang yang terjadi, termasuk perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS), ada dua bidang yang selalu berjalan bersamaan: medan perang dan medan kepercayaan. Medan perang penuh dengan ledakan, sedangkan medan kepercayaan dikelilingi oleh keragu-raguan.

Seringkali, kekalahan pertama dari pihak yang lebih dulu menyerang justru terjadi di medan kepercayaan, sebelum kekalahan itu menjadi nyata di medan tempur. Tanda-tanda kekalahan di medan kepercayaan jarang diumumkan secara terbuka.

Tapi, tanda itu biasanya muncul dalam bentuk yang lebih halus, seperti kebingungan strategi, perubahan tujuan perang, demonstrasi besar-besaran di dalam negeri, desakan untuk gencatan senjata, klaim dan narasi kemenangan, serta—yang paling simbolik—pergantian jenderal. Poin terakhir ini yang akan dijelaskan dalam opini singkat berikut.

Sudah lebih dari sebulan perang Iran 2026 berlangsung, Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump menunjukkan pola itu dengan jelas di medan kepercayaan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth memimpin perombakan untuk menempatkan jenderal-jenderal yang lebih sejalan dengan agenda serangan cepat yang diinginkan Trump.

Beberapa jenderal yang diganti adalah Jenderal George, Jenderal David Hodn, dan Mayor Jenderal William Green Jr. Disini, pergantian beberapa jenderal bukan hanya tentang dinamika organisasi militer biasa, tetapi juga mencerminkan retaknya kepercayaan antara kekuasaan politik dan pertimbangan strategis militer. Singkatnya, bagi Trump, pergantian ini adalah refleksi dari kecemasan yang lebih dalam: krisis kepercayaan di dalam tubuh pemerintahan itu sendiri.

MEMBACA  Cara Memandikan Anak Tanpa Drama untuk Ibu Modern

Sejak awal, seperti banyak dianalisa oleh para ahli, termasuk penulis, perang Iran ini berdiri di atas fondasi yang tidak kuat. Ia bagaikan istana pasir di pantai yang mudah hanyut oleh ombak. Perang ini tidak memiliki garis depan yang jelas, dan juga tidak memiliki musuh yang sepenuhnya konvensional. Narasi pemerintah AS sering berubah-ubah, mulai dari serangan “untuk membela diri”, pembatasan program nuklir, hingga keinginan untuk mengganti rezim.

Tinggalkan komentar