PERDOSRI Luncurkan SIG Sarkopenia dengan Tiga Pilar Utama Selamatkan Kekuatan Otot

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) resmi meluncurkan kelompok studi klinis baru yang bernama Special Interest Group (SIG) Sarkopenia. Kelompok ini diperkenalkan dalam acara Webinar Awam Nasional pada hari Minggu, 12 Juli 2026. Tema webinar adalah “Inisiasi Kerja Interdisiplin dalam Tatalaksana Sarkopenia dengan Orientasi Penyesuaian Perilaku dan Budaya yang Suportif”.

Acara ini menggabungkan edukasi praktis yang berbasis komunitas dengan ilmu pengetahuan global terbaru. Tujuannya adalah untuk mengatasi masalah penurunan massa dan fungsi otot yang semakin serius di Indonesia. Sekarang, sarkopenia dianggap sebagai tantangan kesehatan nasional yang besar.

Data dari Asia-Pasifik yang memakai kriteria AWGS menunjukkan bahwa kasus sarkopenia mencapai sekitar 29 persen. Kondisi ini bisa menggandakan risiko kematian dan kecacatan fungsional pada lansia. Dengan kelompok minat baru ini, PERDOSRI ingin mengubah paradigma pelayanan kesehatan. Mereka mendorong pendekatan yang lebih menekankan pada perlindungan dan optimalisasi fungsi tubuh, bukan hanya pada pengobatan penyakit.

“Kita harus menghilangkan anggapan masyarakat bahwa tubuh yang lemah, lambat, atau mudah jatuh itu wajar karena tua. Dokter Fisik dan Rehabilitasi hari ini mengatakan dengan tegas: Lemah otot itu bukan sekadar tua! Ini adalah sarkopenia, kondisi medis yang bisa kita cegah dan obati sejak dini,” kata Ketua Umum PERDOSRI, DR. Dr. Rumaisah Hasan, Sp.KFR, SubSp., N.M.(K)., FEMG.

Dalam acara ini, para ahli dari berbagai bidang—seperti Dokter Fisik dan Rehabilitasi, Dokter Penyakit Dalam konsultan Geriatri, serta Ahli Gizi Klinik—menjelaskan cara mendiagnosis sarkopenia secara bertahap. Mulai dari tes mandiri sederhana di komunitas menggunakan Tes Cincin Jari dan kuesioner SARC-F, dilanjutkan dengan mengukur kekuatan genggaman tangan, tes kursi (chair stand test), dan konfirmasi akhir dengan USG otot paha depan.

MEMBACA  Tuntutan maksimal Israel tidak kemungkinan akan menghasilkan gencatan senjata dengan Hezbollah | Serangan Israel ke Berita Lebanon

Teknologi masa depan juga dibahas lewat studi multisenter internasional terbaru, SARCO X Study dari jurnal ilmiah JAMDA. Riset ini menunjukkan efisiensi dari kecerdasan buatan (Machine Learning) untuk skrining sarkopenia. Dengan menganalisis variabel seperti usia, aktivitas fisik, hipertensi, dan diabetes, algoritma ini bisa mengurangi tes kekuatan fisik sebanyak 38,1 persen dan pemakai alat pencitraan medis sebesar 49,5 persen.

“Implementasi ilmu modern ini membuka jalan untuk layanan kesehatan otot yang merata di Indonesia. Skrining online berbasis kecerdasan buatan bisa dipake di puskesmas, dengan biaya rendah dan cepat, jauh sebelum muncul kecacatan fisik,” tambah DR. Dr. Rumaisah Hasan.

Sebagai dasar perawatan komprehensif, webinar ini merumus 3 Pilar Utama Penyelamatan Otot. Pertama, pastikan asupan protein tinggi antara 1,2 sampai 1,6 gram per kilogram berat badan per hari, ditambah suplemen jika perlu. Kedua, lakukan secara rutin Latihan Kekuatan Spesifik.

Tinggalkan komentar