Pengamat: Penutupan SPBU Nakal di Jember Perlu Dilakukan, Ini Alasannya

loading…

Dugaan penyimpangan penyaluran Biosolar di SPBU Jember terungkap setelah laporan warga. Foto: Ist

JEMBER – Pengamat energi yang juga Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak, menilai penutupan SPBU yang diduga menyalahgunakan BBM subsidi di Jember, Jawa Timur, adalah langkah yang tepat untuk menjaga integritas distribusi energi nasional. Tindakan tegas ini menunjukkan bahwa negara tidak mentoleransi praktik penyimpangan yang merugikan masyarakat.

“Kasus ini menegaskan bahwa kebocoran subsidi masih menjadi masalah serius di level distribusi. Penindakan harus konsisten, bukan hanya reaktif, tetapi juga diikuti dengan perbaikan sistem pengawasan yang lebih ketat dan transparan,” ujar Ali, Selasa (17/3/2026).

Ali juga memberikan apresiasi positif terhadap langkah hukum yang dilakukan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama DPR RI dan aparat hukum yang telah menyegel SPBU di Jember. “Itu hal yang bagus,” katanya.

Baca Juga : Kawal Mudik Lebaran, Pertamina Patra Niaga Siagakan 1.620 SPBU di Wilayah JBB

Ali mengatakan pelanggaran oleh SPBU ‘nakal’ sebenarnya bukan hal baru. Dari sekitar 13.000 SPBU di Indonesia, tidak semua dikelola langsung oleh Pertamina Patra Niaga, ada juga yang dikelola swasta. Modus seperti selisih volume distribusi dan transaksi tidak wajar menunjukkan ada celah pengawasan yang bisa dimanfaatkan oknum tertentu.

Lebih lanjut, Ali menilai efek jera harus jadi tujuan utama dari kasus di Jember ini.

“Jika terbukti bersalah, sanksi tidak cukup hanya administratif. Harus ada konsekuensi hukum dan pencabutan izin permanen agar bisa menjadi peringatan bagi SPBU lainnya,” ujarnya.

MEMBACA  Smartphone Android Mulai Lambat? Coba 4 Langkah Penyegaran Ini yang Selalu Berhasil

Tinggalkan komentar