Peneliti Indonesia Kembangkan Metode Ramah Lingkungan untuk Pupuk

Jakarta (ANTARA) – Deni Swantomo, seorang peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), telah mengembangkan metode ramah lingkungan untuk memproduksi pupuk nitrogen.

Dalam pernyataan yang diterima pada Jumat, ia mengatakan metode ini menggunakan teknologi plasma Dielectric Barrier Discharge (DBD) untuk menghasilkan amonia langsung dari air dan gas nitrogen.

Produksi amonia global masih mengandalkan proses Haber-Bosch yang boros energi, yang memerlukan suhu dan tekanan tinggi serta berkontribusi pada emisi karbon.

“Berbeda dengan metode konvensional, sistem ini dapat beroperasi pada suhu dan tekanan ruang tanpa memerlukan kondisi ekstrem atau gas hidrogen tambahan,” katanya.

Ketika gas nitrogen diberi energi listrik, ia membentuk plasma yang menghasilkan spesies nitrogen reaktif. Plasma kemudian berinteraksi dengan air, memecahnya menjadi radikal hidrogen dan hidroksil, yang bereaksi dengan nitrogen untuk membentuk amonia.

Studi ini mengevaluasi beberapa parameter operasional, termasuk laju aliran nitrogen, daya listrik, jarak elektroda, jenis air, dan tingkat pH.

Hasil optimal dicapai pada laju aliran nitrogen 1,4 liter per menit, daya 75 watt, dan jarak elektroda 1 sentimeter, menggunakan air deionisasi dengan pH sekitar 5 dan tanpa cahaya ultraviolet (UV).

Dalam kondisi ini, konsentrasi amonia mencapai 19,7 bagian per juta (ppm) dalam waktu 30 menit.

Studi menemukan bahwa air deionisasi menghasilkan jumlah amonia yang lebih tinggi daripada air keran, yang kandungan mineralnya dapat memicu reaksi samping yang menghambat pembentukan. Paparan cahaya UV juga mengurangi hasil dengan mempercepat penguraian amonia.

“Penggunaan air dengan kemurnian tinggi memberikan hasil yang lebih optimal, sementara paparan UV cenderung menurunkan konsentrasi amonia,” ujarnya.

Studi menunjukkan bahwa sistem plasma DBD sederhana dapat menjadi alternatif untuk produksi amonia tanpa katalis, pra-perlakuan kompleks, atau gas hidrogen tambahan.

MEMBACA  Jawaban Teka-teki Silang Mini NYT untuk 26 Mei

Namun, Swantomo mencatat bahwa skala produksi saat ini masih terbatas pada tingkat laboratorium dan belum dapat menyaingi kapasitas industri.

Ia menyatakan harapan agar teknologi ini dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai solusi yang lebih bersih dan efisien untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan global.

Berita terkait: Indonesia akan ekspor urea ke 3 negara imbas penutupan Selat Hormuz
Berita terkait: Pasar global beralih ke pupuk Indonesia amid gangguan: Pemerintah

Penerjemah: Sean Filo Muhamad, Katriana
Editor: Anton Santoso
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar