Banda Aceh (ANTARA) – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyatakan bahwa pemulihan jaringan jalan dan infrastruktur pelayanan publik merupakan prioritas utama dalam upaya tanggap bencana di beberapa wilayah Aceh.
“Langkah ini bertujuan untuk membuka kembali rute transportasi, distribusi logistik, dan akses ke layanan dasar yang terganggu akibat banjir,” kata Kepala Badan Penataan Bangunan, Perumahan dan Kawasan (BPBPK) Aceh, Tommy Permadhi, di sini pada Selasa.
Dia menyebutkan operasi pembersihan telah dilakukan di sepanjang jalan utama di Kecamatan Rantau, termasuk Alur Manis, Kebun Rantau, Kampung Durian, Bukit Tempurung, dan beberapa desa lainnya.
Menurut Permadhi, pekerjaan telah fokus pada membersihkan lumpur dan puing yang ditinggalkan banjir dari permukaan jalan.
Selain pembersihan jalan, rehabilitasi lingkungan juga dilakukan melalui program padat karya yang melibatkan sekitar 100 warga setempat. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan mempercepat pemulihan infrastruktur, tapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat terdampak.
“Pekerjaan telah dimulai di kawasan permukiman yang terdampak bencana, termasuk jalur akses ke Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Titik akses ini menjadi prioritas untuk segera dipulihkan,” ujarnya.
Permadhi menambahkan, kementerian masih menunggu data resmi dan keputusan bupati yang mengidentifikasi kawasan permukiman terdampak, khususnya untuk membedakan zona respons prioritas dengan area yang ditetapkan untuk relokasi.
“Keputusan ini penting untuk memastikan upaya pemulihan tepat sasaran dan tidak tumpang tindih dengan kebijakan daerah,” jelasnya.
Dia mencatat, dalam mandatnya, Direktorat Jenderal Cipta Karya tidak dapat menangani semua pekerjaan pembersihan di kawasan permukiman.
“Fokus kami adalah mengangkut lumpur dan puing dari pinggir jalan ke lokasi pembuangan. Pembersihan fasilitas publik di dalam kawasan permukiman menjadi tanggung jawab Direktorat Jenderal Infrastruktur Strategis,” ungkapnya.
Sementara itu, perusahaan konstruksi BUMN PT Adhi Karya terus berupaya membersihkan dan menormalkan saluran drainase, dengan tujuan mencegah genangan air dan mengurangi risiko banjir lebih lanjut.
Berita terkait: 3.719 relawan profesional berikan perawatan di Aceh: pemerintah
Berita terkait: Indonesia kirim gelombang kedua 366 tenaga kesehatan ke Aceh terdampak banjir
Berita terkait: Sekolah-sekolah di Aceh kembali belajar seiring pemerintah dorong pemulihan pascabencana
Penerjemah: M Ifdhal, Katriana
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026