Pemimpin Harus Tegar Menghadapi Kritik Tanpa Sirna Semangat

Aceh Tamiang (ANTARA) – Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa pemimpin harus siap menghadapi hinaan, fitnah, dan kritik, tetapi tidak boleh patah semangat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Prabowo menyampaikan hal tersebut saat memberikan arahan dalam rapat terbatas yang dihadiri sepuluh menteri, Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Fadhlullah, serta Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi di lokasi Perumahan Danantara, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, pada Kamis.

Dalam sambutannya, Prabowo menyoroti kecenderungan sebagian pihak untuk selalu memandang aktivitas pemerintah dari sisi negatif.

Ia mencontohkan kritik yang sering dilontarkan soal kehadiran pejabat negara di lokasi bencana, yang sering dianggap salah, baik itu jika pejabat datang ataupun tidak datang.

Menurut Prabowo, kehadiran pemimpin dan pejabat di daerah terdampak bencana punya tujuan jelas, yaitu untuk melihat langsung kondisi di lapangan, mengetahui kekurangan dan masalah, serta menetapkan langkah-langkah yang bisa dipercepat untuk membantu masyarakat terdampak.

Dengan bertemu langsung pimpinan daerah, katanya, pemerintah pusat bisa mendapat gambaran lebih jelas tentang kebutuhan setempat dan melakukan verifikasi secepatnya.

“Pejabat datang, pemimpin datang untuk melihat apa yang kurang, apa masalahnya, apa yang bisa kita bantu, dan apa yang bisa kita percepat. Saya datang ketemu gubernur, gubernur menyampaikan apa yang dibutuhkan, ada usulan, dan saya bisa tahu langsung dan mengecek sendiri. Begitu cara kerjanya,” ujarnya.

Presiden mengingatkan kembali kepada para pemimpin, menteri, kepala lembaga, dan gubernur bahwa kesiapan menerima kritik dan hinaan adalah bagian dari kewajiban seorang pemimpin.

Namun, ia menekankan bahwa kritik tersebut tidak boleh melemahkan semangat, melainkan menjadi bahan untuk koreksi diri dan kewaspadaan dalam pemerintahan.

Prabowo juga menggarisbawahi bahwa pendekatan kerja pemerintah berbasis pada bukti dan hasil yang nyata.

MEMBACA  Florida siap menghadapi Badai Milton saat badai tersebut memperkuat menjadi kategori 5

Kehadiran pejabat di lapangan, katanya, bukanlah seremonial, tetapi dimaksudkan untuk mengamati kondisi, mencatat masalah, memahami situasi, dan mengambil keputusan yang diperlukan.

“Kita sekarang dalam proses membuktikan hasil. Saat menteri atau pejabat turun ke lapangan, itu bukan perjalanan bersenang-senang. Mereka datang untuk mengamati, mencatat, memahami, dan memutuskan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kepala Negara menekankan bahwa fokus utama pemerintah adalah meringankan dan mengurangi penderitaan rakyat.

Dia memandang kritik dan komentar negatif sebagai pengingat, tetapi bukan sebagai penghalang bagi tugas pemerintah untuk mengurusi kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

“Tugas kita, meskipun saya tidak setiap hari bersama kalian karena saya berkedudukan di ibu kota, adalah memikirkan bagaimana mengatasi masalah ini dan membantu yang di lapangan. Di saat yang sama, nasib 280 juta rakyat Indonesia tetap harus diurusi di tingkat nasional,” tutup Prabowo.

Berita terkait:

  • Penanganan bencana harus transparan dan tanpa kepentingan terselubung: Prabowo
  • Prabowo puji dedikasi para penanggulangan bencana di Sumatra
  • Prabowo desak penguatan peduli lingkungan di awal 2026

    Penerjemah: Fathur Rochman, Primayanti
    Editor: Azis Kurmala
    Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar