Pemerintah RI Selidiki Kematian Magang, Tinjau Ulang Kebijakan Rumah Sakit

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan akan menyelidiki rumah sakit yang menampung peserta program internship dokter dan meninjau kebijakan setelah tiga peserta magang meninggal, guna menanggapi kekhawatiran publik mengenai kondisi pelatihan.

Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Yuli Farianti mengatakan pada Senin bahwa kematian tersebut tidak terkait beban kerja berlebihan, menampik klaim media sosial yang menyebut jam kerja panjang sebagai penyebabnya.

“Tidak ditemukan indikasi kelelahan karena jadwal tugas. Masing-masing dari ketiganya bekerja kurang dari 40 jam per minggu,” ujarnya.

Kasus pertama melibatkan peserta magang yang berotasi antara RSUD Pagelaran dan sebuah puskesmas di Cianjur, Jawa Barat. Peserta magang tersebut menangani kasus campak pada 8 Maret.

Pada 18 Maret, peserta magang itu mengalami demam, flu, dan batuk. Meskipun diberikan izin sakit dari 19 hingga 21 Maret, ia tetap bekerja.

Berita terkait: Program berbasis rumah sakit bertujuan atasi kekurangan spesialis Indonesia

Antara 22 dan 25 Maret, peserta magang itu beristirahat di rumah dan melakukan pengobatan sendiri. Kondisinya memburuk pada 25 Maret dan meninggal pada 26 Maret, dengan diagnosis akhir campak yang diperumit oleh kondisi jantung dan saraf.

Kasus kedua melibatkan peserta magang yang mengalami demam, diare, dan diduga anemia. Setelah mendapatkan perawatan di dua rumah sakit, peserta magang tersebut meninggal pada 25 Maret.

Otoritas belum mengkonfirmasi diagnosis pasti, meskipun anemia diduga sebagai faktor penyumbang.

Peserta magang ketiga mengalami demam pada 9 Maret dan mengambil cuti sakit dari 10 hingga 12 Maret sebelum mencari perawatan lebih lanjut.

Peserta magang tersebut kemudian dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Denpasar dan didiagnosis demam berdarah dengue (DBD) tingkat 2.

MEMBACA  Militer Indonesia akan mengirim tim untuk mendukung evakuasi gempa Myanmar.

Keterlambatan rujukan disebut sebagai faktor kunci, dan peserta magang itu meninggal akibat komplikasi syok dengue.

Farianti mengatakan kasus-kasus ini menyoroti kebutuhan akan pengawasan yang lebih kuat, komunikasi yang lebih baik dengan peserta magang dan keluarga, serta pemantauan kondisi kesehatan yang lebih ketat.

Ia juga mendorong peserta magang untuk menghindari pengobatan sendiri dan mencari perawatan profesional tepat waktu ketika sakit. Kemenkes akan mengevaluasi sistem pengawasan dan protokol klinis di rumah sakit pendidikan untuk mencegah insiden serupa.

“Peserta magang ada di rumah sakit untuk belajar, dan keselamatan mereka harus dipastikan agar mereka dapat memberikan perawatan yang tepat,” katanya.

Berita terkait: Pemerintah RI kirim dokter magang, perbaiki RS di Aceh terdampak bencana

Penerjemah: Mecca, Kenzu
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar