Jakarta (ANTARA) – Indonesia mendorong universitas untuk bantu persiapkan mahasiswa bekerja ke luar negeri melalui pusat migran berbasis kampus. Pemerintah menargetkan penempatan hingga 500.000 pekerja terampil di luar negeri pada tahun 2026.
Dorongan ini dijelaskan oleh Dwi Setiawan Susanto, Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Ia mengatakan universitas punya posisi bagus untuk mendukung inisiatif ini lewat pusat pengembangan karir yang sudah ada.
“Universitas sudah memiliki pusat pengembangan karir, menjadikan mereka mitra strategis dalam menyiapkan pekerja migran terampil,” kata Susanto di Jakarta, Rabu.
Berbicara di acara penguatan Career Development Centers (CDC), ia menyatakan target pemerintah 2026 mencerminkan permintaan global yang meningkat untuk tenaga kerja terampil.
Ia menekankan persiapan di tingkat universitas sangat penting, karena pasar kerja internasional membutuhkan tidak hanya keahlian teknis, tapi juga kemahiran bahasa asing dan kompetensi lintas budaya.
“Menggabungkan kualifikasi akademik dengan keterampilan bersertifikat internasional akan meningkatkan daya saing dan posisi tawar pekerja Indonesia,” ujarnya.
Susanto menambahkan Indonesia punya potensi kuat di lima sektor kunci untuk penempatan luar negeri: kesehatan, perhotelan, manufaktur, perkebunan, dan kehutanan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mengatakan pembentukan pusat migran merupakan langkah strategis untuk memperluas peluang kerja bagi lulusan.
“Kami bekerja untuk mengubah kampus menjadi pusat layanan untuk pekerjaan ke luar negeri. Ini membutuhkan pola pikir global,” katanya.
Ia berharap bekerja di luar negeri bisa menjadi bagian dari ekosistem akademik, mendorong mahasiswa memandang karir internasional sebagai jalur yang viable.
Inisiatif ini sejalan dengan upaya pemerintah yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan daya saing global.
Pekerja migran Indonesia tetap menjadi pilar penting perekonomian nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 297.000 orang Indonesia ditempatkan di luar negeri pada tahun 2024.
Remitansi dari pekerja migran mencapai US$15,7 miliar pada tahun tersebut, menjadikannya sumber devisa terbesar kedua negara setelah minyak dan gas.
Para pejabat menyatakan penguatan keterlibatan universitas dapat membantu meningkatkan jumlah dan kualitas pekerja yang dikirim ke luar negeri.
Mereka juga berharap program ini dapat meningkatkan perlindungan pekerja dengan memastikan persiapan yang lebih baik sebelum keberangkatan.
Berita terkait: Indonesia persiapkan 1.000 pekerja Bali untuk penempatan di Bulgaria
Berita terkait: Indonesia akan kirim 500.000 pekerja terampil ke luar negeri pada 2026
Penerjemah: Sean Filo, Raka Adji
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026