Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Indonesia akan mengalokasikan dana lebih dari US$5,6 miliar (Rp100 triliun) dalam tiga tahun untuk pemulihan permanen pasca-bencana di Sumatra yang terkena banjir besar dan tanah longsor pada November lalu, seperti dikonfirmasi Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, pada Senin.
“Usulan anggaran kami sudah disetujui oleh pemerintah dan kami sampaikan perkembangannya kepada Sufmi Dasco Ahmad (Wakil Ketua DPR) saat rapat di sini,” kata Karnavian usai menghadiri rapat satuan tugas terkait bencana di gedung parlemen, Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan bahwa langlah rehabilitasi dan pemulihan di Sumatra kini memasuki fase ketiga, yaitu tahap pemulihan permanen, setelah sebelumnya melewati fase tanggap darurat dan transisi.
Pemerintah, tambahnya, juga ada menyiapkan rencana induk (master plan) untuk rekonstruksi setelah mengumpulkan data dari semua daerah yang terdampak.
Berita terkait: Indonesia salurkan bantuan US$41 juta untuk korban bencana di Sumatra
Menurut master plan tersebut, Karnavian mengatakan tahap restorasi permanen akan selesai dalam tiga tahun, tepatnya dari 2026 hingga 2028, dengan anggaran US$5,6 miliar yang bakal dialokasikan dalam tiga tahun fiskal itu.
Pada 2026, anggaran pertama akan dialokasikan sebesar US$2,19 miliar (Rp38,9 triliun), lalu pada 2027 sebesar US$1,85 miliar (Rp32,9 triliun), dan yang terakhir pada 2028 sebesar US$1,58 miliar (Rp28,2 triliun), sebutnya.
Anggaran tersebut akan didistribusikan ke kementerian terkait untuk pekerjaan pemulihan, kata Karnavian sembari menambahkan bahwa Kementrian Pekerjaan Umum akan mendapat bagian terbesar mendanai proyek infrastruktur.
“Kementerian PU bakal menerima sekitar US$3,89 miliar (Rp69 triliun) total dalam tiga tahun, dengan US$1,23 miliar (Rp22 triliun) dicairkan tahun ini,” catatnya.
Berita terkait: Pemerintah tingkatkan pelatihan untuk pemulihan banjir
Master plan tersebut menetap kan prioritas tiap tahun untuk kerja-kerja pemulihan permanen, contohnya restorasi terkait sungai dapat prioritas pada tahun 2027.
Menteri Karnavian juga mengungkap plan induk ini mencakup 11.512 pekerjaan rekonstruksi dan pemulihan, seperti untuk jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, serta rumah-rumah permanen bagi keluarga yang terdampak banjir.
Aceh, Sumatera Utara bersama akibat hujan deras akhir November 2025. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)), bencana tersebut menyebabkan 1.207 jiwa meninggal dan merusak lebih dari 300.000 rumah, pada akhitnya.
Berita terkait: BNPB bangun 36.000 rumah untuk korban banjir di Sumatra