Kamis, 9 April 2026 – 04:15 WIB
Jakarta, VIVA – **Bekam** sudah lama dikenal sebagai salah satu metode pengobatan tradisional yang dipercaya bisa bantu atasi berbagai masalah **kesehatan**. Di tengah makin tingginya minat masyarakat pada gaya hidup sehat alami, terapi ini kembali jadi perhatian, terutama setelah penjelasan dari **Zaidul Akbar** tentang mekanisme dalam tubuh saat bekam dilakukan.
Dalam paparannya, Zaidul Akbar jelaskan bahwa untuk paham cara kerja bekam, masyarakat perlu lihat tubuh manusia sebagai sistem yang kompleks. Ia pakai analogi sederhana seperti sebuah bangunan untuk gambarkan bagaimana tubuh merespons rangsangan. Scroll lebih lanjut yuk!
“Kalau cuma tisu terbakar di depan pintu, kira-kira pemadam kebakaran datang gak? Enggak ya, karena itu terlalu kecil. Tapi, kalau kita teriak bahwa ada teroris atau ancaman besar, maka seluruh pasukan, termasuk tim anti-teror, akan langsung datang,” ujar dr. Zaidul Akbar, mengutip **Yotube** dr. Zaidul Akbar Official, Kamis 9 April 2026.
Lewat ilustrasi itu, ia tegaskan bahwa tubuh tidak selalu kasih respons besar terhadap rangsangan kecil. Namun, dalam terapi bekam, ada proses perlukaan ringan di permukaan kulit yang justru jadi sinyal penting bagi tubuh. Luka-luka kecil ini kirim pesan ke otak bahwa ada kondisi yang perlu segera ditangani.
“Perlukaan-perlukaan kecil ini mengirimkan sinyal ke pusat otak kita untuk segera keluarkan pasukan imun terbaik tubuh,” tuturnya.
Ketika proses bekam berlangsung, darah yang keluar bukan cuma cairan biasa. Tubuh otomatis merespons dengan mengaktifkan sistem pertahanan, termasuk mengerahkan sel-sel imun untuk perbaiki jaringan yang terdampak. Respons ini tidak cuma terjadi di tempat bekam saja, tapi juga libatkan sistem tubuh secara keseluruhan.
Yang menarik, Zaidul Akbar sebut bahwa bekam bisa picu aktivasi sistem imun dalam skala besar, bahkan melibatkan sel-sel yang biasanya cuma aktif saat ada penyakit serius.
“Bekam dapat memicu keluarnya pasukan imun kelas berat yang biasanya cuma aktif saat hadapi penyakit berat seperti HIV/AIDS,” ungkapnya.
Meski begitu, ia tekankan bahwa keberhasilan terapi bekam tidak ditentukan oleh banyaknya darah yang keluar. Justru, hal terpenting ada pada sinyal biologis yang dikirim ke otak.
“Saat kamu berbekam, yang dicari bukan banyaknya darah yang keluar, melainkan sinyal yang dikirimkan perlukaan-perlukaan tersebut ke otak,” jelasnya.
Halaman Selanjutnya