Jakarta (ANTARA) – Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian Indonesia ke Gaza yang saat ini ditunda bukan bertujuan untuk melucuti senjata Hamas.
“Kami tidak ingin terlibat dalam pelucutan senjata Hamas. Kami hanya berencana melindungi warga sipil dari serangan apa pun,” ujarnya dalam siaran Presiden Prabowo Menjawab, seperti dilaporkan pada Jumat.
Menurut dia, misi penjaga perdamaian ini mewujudkan perjuangan gigih rakyat Indonesia untuk membela kemerdekaan Palestina.
Prabowo menekankan kesiapan Indonesia untuk mengirimkan pasukan dalam kerangka Board of Peace (BoP), atas persetujuan semua pihak.
Dia menginformasikan bahwa persetujuan dari pimpinan Palestina dan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim merupakan syarat mutlak. Negara-negara tersebut mencakup Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir.
Selain dukungan negara-negara kawasan, Prabowo menekankan pentingnya penerimaan dari pihak-pihak de facto di lapangan.
“Hamas harus menerima kami, karena kami ingin menjadi pasukan pemelihara perdamaian,” lanjutnya.
Dalam mekanisme BoP, kepala negara menjelaskan istilah national caveats, atau batasan-batasan nasional yang dihormati, di mana setiap negara anggota berhak menentukan keterlibatan sesuai prinsip nasionalnya masing-masing.
Menyangkut batasan ini, Prabowo memastikan Indonesia mengambil sikap tegas untuk tidak berkonfrontasi bersenjata.
“Kami tegas dalam tidak ingin terlibat aksi militer melawan Hamas,” tegasnya.
Namun, presiden menyatakan bahwa rencana pengiriman pasukan tersebut saat ini ditangguhkan, menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Penangguhan ini dilakukan setelah pemerintah melakukan serangkaian konsultasi dengan berbagai pihak mengenai situasi geopolitik yang tidak stabil.
“Dalam peperangan seperti itu, kami berkonsultasi, tetapi pada de facto-nya semuanya ditunda. Ya, saya telah mengumumkan hal itu,” pernyataan Prabowo.
Indonesia awalnya berencana mengirim hingga 8.000 personel TNI dalam misi stabilisasi kemanusiaan dan bergabung dengan International Stabilization Force (ISF). Meski persiapan internal telah berjalan, pengiriman pasukan tetap tergantung pada mandat resmi PBB dan kondisi keamanan saat ini.
Berita terkait: Indonesia hentikan sementara rencana kirim pasukan ke Gaza imbas ketegangan kawasan
Berita terkait: Indonesia sebut perwira TNI siap untuk Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
Berita terkait: Prabowo cari dukungan ulama atas sikap Indonesia dalam krisis Teluk
Penerjemah: Aditya Ramadhan, Resinta Sulistiyandari
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026