Pasar Kerja 2026 Mencemaskan: Pekerjaan Level Pemula Menghilang Bertahap

Selasa, 13 Januari 2026 – 14:10 WIB

Jakarta, VIVA – Tahun 2026 dimulai dengan kabar tidak bagus bagi para pencari kerja fresh graduate. Saat jutaan lulusan baru siap memasuki dunia kerja, pasar tenaga kerja malah menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang makin nyata.

Posisi entry level yang seharusnya jadi pintu masuk karier sekarang berubah jadi medan yang penuh rintangan.

Generasi Z jadi kelompok yang paling terdampak dalam krisis ini. Di tengah gelombang PHK, kekhawatiran akan AI, dan praktek rekrutmen yang kurang transparan, banyak pencari kerja muda merasa sistem perekrutan sekarang tidak lagi dirancang untuk mereka.

Data terbaru menunjukkan krisis rekrutmen entry level di 2026 tidak hanya berlanjut, tapi semakin memburuk. Lebih dari separuh dari 183 perusahaan yang disurvei oleh National Association of Colleges and Employers menilai pasar kerja 2026 dalam kondisi “buruk” atau “cukup”.
Mereka juga hanya memproyeksikan peningkatan perekrutan sebesar 1,6 persen untuk lulusan 2026. Gambaran yang lebih suram muncul dalam sebuah pertemuan Yale School of Management, di mana 66 persen eksekutif menyatakan berencana memangkas karyawan atau membekukan perekrutan tahun ini, sementara hanya sepertiga yang masih berniat merekrut.

Satu faktor utama yang membentuk krisis ini adalah kekhawatiran terhadap AI. Aneesh Raman dari LinkedIn mengatakan bahwa kecerdasan buatan semakin mengancam pekerjaan yang secara historis jadi batu loncatan bagi pekerja muda.

“Saya pikir kita akan melihat AI menjadi lebih baik lagi. Saat ini sudah sangat luar biasa. Kita akan melihat AI punya kemampuan untuk menggantikan banyak sekali pekerjaan,” kata Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer yang dikenal sebagai “bapak AI”, seperti dikutip dari Forbes, Selasa, 13 Januari 2026.

MEMBACA  5 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Pasar Saham Dibuka Hari Kamis, 7 Maret

Elon Musk, CEO Tesla dan X, bahkan berulang kali menyatakan keyakinannya bahwa AI dan robotika akan menghilangkan kebutuhan manusia untuk bekerja sama sekali dalam waktu dekat.

Kecemasan ini diperkuat oleh realitas PHK besar-besaran sepanjang 2025. Pada Oktober 2025, perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon, UPS, dan Target mengumumkan PHK dengan total lebih dari 60.000 karyawan. Menurut Federal Reserve Bank of New York, tingkat pengangguran rata-rata capai 5,3 persen, sementara tingkat setengah pengangguran melonjak ke 41,8 persen, tertinggi sejak 2020.

Merespons kondisi ini, banyak Gen Z mulai melirik pekerjaan kerah biru. Survei ResumeTemplates.com terhadap 1.250 responden Gen Z di Amerika Serikat menemukan bahwa tiga dari lima pekerja Gen Z berencana menekuni pekerjaan blue-collar pada 2026, termasuk hampir setengah dari mereka yang punya gelar sarjana atau lebih tinggi.

Tinggalkan komentar