Pada Angka 733, Mampukah Surabaya Tumbuh Tanpa Kehilangan Jiwanya?

Tantangan hari ini bukan lagi sekedar mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan adil.

Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) – Di balik lalu lintas yang padat, kawasan bisnis yang terus meluas, serta kampung-kampung kota di mana gotong royong masih sangat terasa, Surabaya sedang menjalani perjalanan panjang untuk menjawab satu pertanyaan besar: Bagaimana caranya mempertahankan laju pertumbuhan tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya?

Pertanyaan ini semakin relevan saat kota ini merayakan hari jadinya yang ke-733 pada 31 Mei 2026—sebuah tonggak sejarah yang menjadi momen untuk mengevaluasi kembali arah pembangunan kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia.

Hal ini penting karena keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari gedung pencakar langit atau indikator ekonominya, tetapi dari kemampuannya memberikan kesejahteraan yang nyata dan merata bagi warganya.

Segudang pencapaian yang ditunjukkan oleh Pemerintah Kota Surabaya telah membuktikan fondasi pembangunan yang cukup kuat.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 85,65, tertinggi di Jawa Timur. Ekonomi kota tumbuh 5,87 persen pada tahun 2025, dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp830,54 triliun (setara sekitar US$46,4 miliar).

Lebih dari itu, angka kemiskinan turun menjadi 3,56 persen, sementara inflasi tetap terkendali di angka 2,96 persen.

Di atas kertas, indikator-indikator ini menunjukan bahwa ibu kota Jawa Timur masih menjadi salah satu mesin ekonomi utama Indonesia. Namun, seperti halnya kota-kota metropolitan global lainnya, tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan kesuksesan pembangunan ini dalam jangka panjang.

Pembangunan manusia

Salah satu pencapaian utama Surabaya adalah investasi pada sumber daya manusia. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kualitas SDM telah menjadi pembeda utama antar daerah.

Keberhasilan Surabaya menekan angka prevalensi stunting hingga 0,59 persen membuktikan bahwa pembangunan jauh melampaui infrastruktur fisik.

MEMBACA  Tawaran keluar keamanan siber Israel melonjak, pendanaan terhenti pada tahun 2023

Upaya untuk memperkuat layanan kesehatan melalui rumah sakit daerah, mengintegrasikan layanan primer hingga tingkat kelurahan, dan memperkuat posyandu menjadi fondasi penting dalam membangun generasi yang lebih sehat.

Di bidang pendidikan, kebijakan perluasan akses dan pemberian beasiswa kepada puluhan ribu siswa dan mahasiswa mencerminkan pemahaman jelas bahwa kemiskinan tidak bisa diatasi hanya dengan bantuan sosial. Pendidikan tetap menjadi kunci mobilitas sosial.

Namun, tantangan baru mulai bermunculan. Saat ini, kota-kota besar tidak hanya dituntut menyediakan akses pendidikan, tetapi juga memastikan lulusannya memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.

Transformasi digital, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, dan industri kreatif dengan cepat menggeser struktur pasar tenaga kerja.

Banyak pekerjaan tradisional yang menghilang, sementara yang baru terus bermunculan. Dalam hal ini, fokus Pemerintah Kota Surabaya membuka akses perguruan tinggi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu merupakan langkah yang sangat strategis.

Namun, akses saja tidak cukup. Yang benar-benar diperlukan adalah jembatan yang mulus antara pendidikan dan lapangan kerja. Universitas, sekolah kejuruan, pelaku bisnis, dan pemerintah harus membangun ekosistem yang memungkinkan lulusan tidak hanya mencari kerja, tetapi juga menciptakannya.

Pengalaman beberapa kota maju di Asia menunjukkan bahwa pembangunan manusia yang sukses bergantung pada kemampuan menghubungkan pendidikan, inovasi, dan kewirausahaan dalam satu rantai kebijakan yang salin memperkuat.

Membangkitkan ketahanan ekonomi

Di tengah ketidakpastian global, pertumbuhan ekonomi Surabaya sebesar 5,87 persen merupakan hal yang patut diapresiasi. Konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, dan pergeseran rantai pasok internasional terus menjadi ancaman bagi banyak daerah.

Posisi Surabaya sebagai hub perdagangan, jasa, logistik, dan industri di kawasan Indonesia Timur memberikan keunggulan tersendiri. Keragaman aktivitas ekonomi membuat kota ini relatif lebih tahan terhadap guncangan ekonomi dibandingkan daerah yang sangat bergantung pada satu sektor saja.

MEMBACA  CoreWeave (CRWV) Pasang Taruhan $9 Miliar pada Core Scientific untuk Dongkrak Pertumbuhan AI

Meskipun begit,u pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak secara otomatis menghilangkan semua tantangan perkotaan. Fenomena yang biasa terjadi di banyak kota besar adalah semakin lebarnya kesenjangan antara mereka yang menikmati manfaat pertumbuhan dan mereka yang tertinggal.

Meskipun menurunkan angka kemiskinan menjadi 3,56 persen merupakan kemenangan besar kota ini, fokus harus bergerak melampaui masyarakat berpenghasilan rendah untuk mencakup mereka yang rentan secara ekonomi—orang-orang yang berisiko jatuh miskin akibat guncangan ekonomi, ketidakstabilan pekerjaan, dan biaya hidup yang semakin tinggi.

Oleh karena itu, penguatan ekonomi rakyat harus terus diperluas oleh pemerintah. Bantuan untuk usaha mikro, peningkatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kemudahan akses pembiayaan, dan perluasan pasar digital harus menjadi prioritas.

Melalui jaringan kelurahan, RW, komunitas lokalnya, Surabaya memiliki modal sosial yang kuat yang dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi jika dipadukan dengan teknologi digital dan pengembangan bisnis berbasis komunitas.

Kota-kota sukses di masa depan tidak hanya akan memiliki pusat bisnis modern, tetapi juga mampu mengembangkan ekonomi lokal yang tumbuh bersama warganya.

Kota berkelanjutan

Di abad ke-21, keberhasilan suatu kota dalam pembangunan semakin ditentukan oleh kemampuannya mengatasi masalah lingkungan dan perubahan iklim. Dalam aspek ini, Surabaya telah menunjukan kemajuan yang signifikan.

Sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan kapasitas harian hingga ratusan ton, serta pengoperasian pembangkit listrik berbasis sampah (waste-to-energy), menandakan pergeseran pendekatan yang jelas. Sampah tidak lagi dilihat sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya.

Bersamaan dengan itu, pembangunan saluran drainase dan stasiun pompa yang telah berhasil menghilangkan ratusan titik genangan mengukuhkan komitmen pemerintah kota untuk memperkuat ketahanan kota terhadap cuaca ekstrem.

Namun, di luar sampah dan banjir, ada isu lain seperti ancaman gelombang panas, menyusutnya ruang hijau, meningkatnya konsumsi energi, hingga kualitas udara yang memburuk, yang akan semakin kritis dalam beberapa dekade mendatang.

MEMBACA  Pemimpin Angola dan Ethiopia Rencanakan Kunjungan ke Indonesia Tahun Depan

Disinilah pembangunan berkelanjutannya perlu didefinisikan secara lebih luas. Ini bukan hanya tentang membangun infrastruktur yang tangguh, tetapi tentang menciptakan kota yang layak huni dan ramah pejalan kaki—lengkap dengan transportasi publik terpadu serta ruang-ruang sehat untuk interaksi sosial.

Lebih lanjut, tantangan berikutnya adalah memastikan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah kota untuk mencegah kesenjangan kualitas hidup.

Surabaya sejak lama dikenal mampu mempertahankan identitas kampung kotanya di tengah modernisasi yang cepat. Karakter unik inilah yang justru harus dipertahankan. Lagi pula, kekuatan sejati sebuah kota tidak hanya terletak pada infrastrukturnya, melainkan juga pada kohesi sosial yang tumbuh subur di dalam masyarakatnya.

Memasuki usia 733 tahun menempatkan Surabaya pada posisi yang unik. Ia telah melewati masa-masa sejarah yang berbeda, beralih dari pusat perdagangan bersejarah dan tempat lahirnya perjuangan kemerdekaan menjadi sebuah kota metropolitan modern.

Sekarang, segalanya berbeda. Tantangan hari ini memanesakan bukan lagi sekedar mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan serta menghasilkan keadilan bagi seluruh masyarakat.

Segudang capaian yang telah diraih hingga saat ini telah menempatkan Surabaya di jalur yang menjanjikan. Namun, masih ada perjalanan panjang untuk mewujudkan dirinya menjadi kota di masa depan. Kualitas SDM, kesejahteraan yang merata, transformasi ekonomi, dan ketahanan lingkungan akan menjadi faktor penentu arah pembangunan kota ini.

Pada akhirnya, pertanyaan yang pantang ditanyakan bukan lagi ‘mampukah Surabaya tumbuh lebih besar?’, melainkan ‘dapatkah pertumbuhan itu menghadirkan kehidupan bermutu yang setara bagi semua warganya?’. Itulah tolak ukur nyata suatu kota besar yang telah berusia lebih dari tujuh abad di nusantara.

Tinggalkan komentar