Orang Tua pun Dapat Berbuat Durhaka

Sabtu, 28 Februari 2026 – 02:30 WIB

Dalam keseharian, kata ‘durhaka’ biasanya cuma dihubungkan sama anak ke orang tua. Dari kecil kita diajarin untuk menghormati, nurut, dan menyayangi orang tua sebagai wujud bakti, karena mereka yang udah kasih kehidupan, perhatian, dan kasih sayang tanpa pamrih.

Namun, kalau kita telusuri lebih dalam, ternyata konsep durhaka itu nggak cuma satu arah. Banyak kasus yang nunjukkin kalau orang tua juga bisa berbuat hal yang akhirnya dianggap durhaka pada anaknya sendiri.

Iya, bukan cuma anak yang bisa durhaka, orang tua pun bisa dicap durhaka ke anak. Ini diungkap oleh Habib Jafar, yang jelasin bahwa dalam Islam ada istilah untuk orang tua yang durhaka pada anak. Sayangnya, hal ini jarang dibahas.

“Salah satu kelemahan dakwah Islam dan pemahaman tradisi di Indonesia adalah kita cuma kenal istilah anak durhaka. Padahal dalam Islam dan tradisi Indonesia seharusnya ada juga istilah orang tua durhaka pada anak,” ujar Habib Jafar, dikutip dari YouTube Deddy Corbuzier, Sabtu 28 Februari 2026.

Lalu, apa tanda atau ciri orang tua yang durhaka pada anak? Berdasarkan keterangan Al Quran dan perkataan Sayyidina Umar, salah satu tandanya adalah orang tua yang tidak pernah mendoakan anak-anaknya.

“Kadang ada orang tua yang durhaka. Siapa orang tua yang durhaka, kata Al Quran, kemudian Sayyidina Umar juga pernah bilang, yaitu orang tua yang tidak mendoakan anak-anaknya,” kata Habib Jafar.

Kedua, kata Habib Jafar, orang tua bisa disebut durhaka saat mereka tidak memberikan nama yang baik untuk anaknya. Yang ketiga, orang tua bisa dianggap durhaka kalau tidak memberikan akses pendidikan pada anak sesuai kemampuan yang mereka miliki.

MEMBACA  Sertifikat tanah dapat membawa nilai ekonomi tambahan: menteri

“Intinya, orang tua yang tidak menjalankan kewajiban dan tidak memberikan hak anaknya, maka dia durhaka. Kedurhakaan itu bisa datang dari orang tua ke anak, dan banyak anak yang terbengkalai karena dari awal orang tuanya memang durhaka. Dalam arti, nggak punya kemampuan ekonomi tapi maksa punya anak banyak,” jelasnya.

Di sisi lain, terkait anggapan ‘banyak anak banyak rezeki’, Habib Jafar memberikan penjelasan khusus. Ia menekankan bahwa hal itu harus dipahami secara bijak; jika orang tua belum siap secara kemampuan, sebaiknya mempersiapkan diri dulu.

Tinggalkan komentar