Optimisme Kembali, Investor Berduyun Masuk ke Pasar Indonesia

Rabu, 25 Maret 2026 – 17:55 WIB

Jakarta, VIVA – Konflik Timur Tengah yang berkepanjangan telah memicu berbagai sentimen yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga mengalami tekanan selama hampir sebulan. Setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri, indeks mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan seiring kembalinya investor ke pasar saham domestik.

Analis pasar modal, Reydi Octa, menilai ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global masih tinggi. Menurutnya, suku bunga tinggi dan volatilitas harga minyak akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran sempat memicu aksi jual di pasar saham.

Ia mengatakan, pelaku pasar melakukan diversifikasi ke aset defensif seperti emas dan obligasi, serta menjauhi aset berisiko. Reydi juga mengingatkan bahwa aliran dana akan sangat sensitif terhadap perkembangan konflik dan inflasi.

Reydi melihat investor mulai kembali masuk secara bertahap ke pasar saham Indonesia (capital inflow), meskipun masih bersikap selektif dan hati-hati.

"Asing belum agresif, masih dalam fase akumulasi terbatas sambil menunggu kepastian arah global dan stabilitas makro," ujar Reydi dikutip dari Antara, Rabu, 25 Maret 2026.

Kembalinya investor sejalan dengan pemulihan IHSG serta penguatan bursa saham kawasan Asia. Hingga penutupan perdagangan Rabu, 25 Maret 2026, IHSG menguat 2,75 persen atau 195,28 poin ke level 7.302,12.

Sementara itu, bursa saham regional Asia juga menguat: indeks Nikkei naik 1.474,72 poin (2,82%) ke 53.727,00, indeks Shanghai naik 50,56 poin (1,30%) ke 3.931,84, indeks Hang Seng naik 217,79 poin (0,87%) ke 25.281,50, dan indeks Strait Times naik 34,54 poin (0,71%) ke 4.896,97.

Reydi menjelaskan, kenaikan IHSG didorong oleh kombinasi technical rebound setelah libur panjang Lebaran, membaiknya sentimen global, serta rotasi dana ke sektor energi dan barang konsumen non-primer. Selain itu, meredanya tensi geopolitik dan penurunan harga minyak memberi ruang bagi IHSG untuk rebound.

Lebih lanjut, Reydi memproyeksikan suku bunga global masih berpotensi bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer). Sementara itu, harga minyak diperkirakan tetap berfluktuasi mengikuti eskalasi geopolitik, sehingga konflik AS-Iran menjadi faktor utama penggerak pasar saat ini.

MEMBACA  Sebuah Pekerjaan Membunuh Memaksa Mantan Kekasih untuk Bertemu Kembali dalam Cerita Pendek Sci-Fi Queer Ini

"Jika tensi mereda, pasar bisa rebound. Namun jika eskalasi meningkat, tekanan akan kembali dominan," kata Reydi.

Tinggalkan komentar