Rabu, 13 Mei 2026 – 07:46 WIB
(Artikel opini ini ditulis Prof. Yuli Retnani, Guru Besar IPB University)
Era Keuangan Digital Semakin Terbuka, Indodax Soroti Pentingnya Perlindungan Konsumen
VIVA – Industri perunggasan sangat strategis pengaruhi perekonomian Indonesia. Penyediaan protein cepat bisa diproduksi dalam waktu singkat, dipenuhi dari protein hewani daging ayam broiler dan telor ayam.
Industri perunggasan adalah kisah sukses modernisasi pertanian dan teknologi pangan. Dalam waktu cuma 30–40 hari, ayam broiler sudah bisa dipanen, produksi telur sangat efisien berkat teknologi pembibitan, pakan, kesehatan ternak, dan manajemen kandang modern.
Cara VKTR Perkuat Ekosistem Industri EV Nasional di Jateng
Industri perunggasan jadi sumber protein hewani paling terjangkau di masyarakat dan serap tenaga kerja banyak. Secara teknis, industri ini (telur dan daging ayam) menjadi tulang punggung penyedian protein hewani rakyat Indonesia. Dengan sistem produksi sekarang, kebutuhan protein rakyat tercukupi dan terjangkau karna harganya murah.
Namun, banyak keluhan di kalangan produsen peternak perunggasan akibat sering rugi, gulung tikar, terlibat hutang, bahkan penyitaan aset properti kandang atau rumah terjadi karena kerugian usaha.
Industri Rokok Kembali Diterpa Ancaman PHK Seiring Wacana Larangan Bahan Tambahan
Fakta ini jadi indikasi bahwa struktur industri (produksi dan perdagangan) sakit dan berada dalam persaingan tidak sehat. Industri perunggasan mengalami konsentrasi horizontal dan vertikal, untungkan konglomerasi di hulu tapi rugikan peternak di hilir. Nilai tambah dinikmati perusahaan besar, sementara usaha kecil tertindas.
Struktur Industri dan Monopoli
Masalah industri perunggasan adalah praktek monopoli, konsentrasi vertikal dan horizontal itu. Teknologi dan sistem produksi tidak ada masalah, tapi di balik keberhasilan tersebut, tersembunyi persoalan serius dalam struktur industrinya.
Masalah utama industri perunggasan Indonesia bukan lagi soal teknologi produksi, melainkan struktur industrinya yang makin terkonsentrasi sehingga mudah terjadi praktek monopoli. Akibatnya, sistem perunggasan ciptakan ketidakadilan ekonomi yang serius.
Hadirnya rencana Kadin untuk undang investor baru di hulu jadi isu sensitif dan perbincangan meluas di kalangan peternak, akademisi, kampus, serta pengusaha besar itu sendiri.
Ini harus dijelaskan: apakah akan perbaiki persaingan sehat sehingga peternak punya akses lebih baik ke input produksi, proses produksi, dan pasar? Atau sebaliknya, apakah investor baru cuma melanggengkan konsentrasi dari hulu ke hilir dan konsentrasi horizontalnya?
Halaman Selanjutnya
Selama ini pengusaha besar lakukan integrasi usaha yang sangat kuat dari hulu ke hilir. Perusahaan besar kuasai pembibitan DOC (day old chick), pakan ternak, obat & vaksin, rumah potong, distribusi, cold storage, bahkan retail dan perdagangan.
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya tanggung jawab penulis atau pengguna.