Napi Rutan Muntok Ikuti Pelatihan Tata Cara Memandikan Jenazah

Sabtu, 14 Maret 2026 – 16:55 WIB

Bangka, VIVA – Suasana Ramadan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Muntok kali ini terasa beda. Di tengah bulan puasa, para narapidana tidak cuma memperdalam ilmu lewat tadarus Al-Qur’an, tetapi juga ikut pelatihan cara memulasara jenazah.

Dibimbing instruktur yang berpengalaman, mereka belajar tata cara memandikan, mengafani, sampai menyolatkan jenazah sesuai ajaran Islam.

Kepala Rutan Muntok, Andri Ferly, bilang pelatihan ini jadi bekal untuk warga binaan saat kembali ke masyarakat. Peserta yang lulus dan dianggap kompeten akan dapat sertifikat sebagai bukti keahlian.

“Kami ingin setelah mereka kembali ke masyarakat, mereka bawa bekal yang nyata dan dibutuhkan. Sertifikat ini bukti bahwa keterampilan mereka sudah memenuhi standar sesuai tuntunan Islam,” kata Ferly, Sabtu 14 Maret 2026.

Ferly menambahkan, pelatihan ini diharap bisa menghilangkan stigma negatif tentang narapidana. Dengan punya keahlian sebagai tenaga pemulasaran, nanti mereka bisa punya peran penting.

Ia jelaskan bahwa memulasara jenazah adalah bentuk penghormatan terakhir kepada sesama. “Kami ingin masyarakat nanti lihat para napi bukan sebagai orang yang harus dijauhi, tapi sebagai pribadi yang bermanfaat,” ujarnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kepulauan Bangka Belitung, Gunawan Sutrisnadi, apresiasi langkah Rutan Muntok. Ia nilai pelatihan ini sejalan dengan motto “Pemasyarakatan Pasti Bermanfaat untuk Masyarakat”.

Lewat pelatihan ini, ia harap tembok pemasyarakatan bukan lagi jadi halangan untuk berbuat baik. Baginya, lembaga pemasyarakatan harus berperan dalam edukasi dan pemberdayaan.

“Melalui berbagai program pembinaan, rehabilitasi, dan pelatihan keterampilan, kami ingin membentuk individu yang lebih baik dan bisa berkontribusi buat masyarakat dan kemajuan bangsa,” ucap Gunawan.

MEMBACA  Prabowo dan Tony Blair membahas strategi untuk transformasi Indonesia

Gunawan tekankan bahwa kunci utama pemulasaran adalah amanah dan menjaga kehormatan jenazah. Menurutnya, nilai integritas ini juga sedang ditanamkan dalam pembentukan karakter narapidana selama pelatihan.

Pelatihan ini dapat sambutan hangat dari salah satu narapidana, AO. Dia mengaku terharu saat praktik cara membalut jenazah dengan kain putih yang penuh nilai.

“Pelatihan ini jadi pengingat yang sangat nyata tentang kematian, bahwa manusia akan kembali hanya dengan kain putih dan amal ibadah. Ini juga yang mendorong saya untuk minta ampunan,” kata AO.

Tinggalkan komentar