Nadiem Tegaskan Tidak Pernah Menginstruksikan Penggunaan Chromebook, Dana Google Dikategorikan sebagai Program CSR

Sabtu, 7 Maret 2026 – 21:21 WIB

Jakarta, VIVA – Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengungkap beberapa keterangan saksi tentang proses pengadaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK).


Eks Direktur SMP Kemendikbudristek Disebut Mengaku Jalankan Instruksi Nadiem

Dalam sidang yang digelar Kamis 5 Maret 2026, beberapa saksi menyatakan tidak ada arahan dari mantan Mendikbudristek, Nadiem Makarim, untuk mewajibkan pakai Chromebook dalam program pengadaan itu. Selain itu, skema pendanaan dari Google disebut sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Mantan Staf Khusus Menteri Bidang Isu-Isu Strategis, Fiona Handayani, dalam kesaksiannya bilang kalau sebelum Nadiem jadi menteri, tidak ada pembahasan tentang pengadaan TIK atau Chromebook di grup komunikasi tim inti.


Saksi Sidang Chromebook Ngaku Rugi, Keuntungan Vendor di Dakwaan Disebut Tak Sesuai

“Tidak ada sama sekali pembicaraan mengenai pengadaan TIK maupun Chromebook di WA Group Core Team sebelum Nadiem menjadi Menteri,” kata Fiona dikutip, Sabtu, 7 Maret 2026.

Keterangan yang sama disampaikan Ibrahim Arief alias Ibam, mantan konsultan perorangan di Ditjen Pendidikan Tinggi. Ia menjelaskan bahwa di tahap awal, tim teknis cuma melakukan eksplorasi berbagai pilihan perangkat keras untuk kebutuhan sekolah.


KPK Bakal Periksa Suami dan Anak Bupati Pekalongan, Telusuri Aliran Uang Korupsi

“Saya diminta untuk eksplorasi terkait hardware untuk sekolah. Judul presentasi saya ‘tech hardware for schools’, bukan ‘Chromebook for schools’. Di beberapa halaman awal juga fokus ke laptop berbasis Linux,” ujar Ibrahim.

Ia juga menyebut bahwa dalam pembahasan ringkasan eksekutif tentang opsi perangkat, Nadiem sempat tanya alasan adanya kombinasi antara perangkat berbasis Windows dan Chromebook dalam usulan tersebut.

MEMBACA  Program Baru di RANS Entertainment

“Iya, Mas Menteri bertanya kenapa ada kombinasi antara Windows dan Chromebook. Kenapa tidak semuanya Windows saja,” kata Ibrahim.

Dalam keterangannya di sidang, Nadiem bilang keterlibatannya dalam bahas Chromebook terjadi dalam satu rapat pada 6 Mei 2020. Dalam rapat itu dibahas opsi alokasi perangkat, termasuk kemungkinan kombinasi 14 Chromebook dan satu laptop Windows untuk setiap sekolah.

Menurut dia, keputusan teknis tentang komposisi pengadaan perangkat dilakukan oleh tim teknis di tingkat direktorat dan dirjen. Ia juga mengaku sempat ingatkan perlunya pertimbangkan pengadaan laptop Windows jika ketersedian Chromebook di pasaran terbatas.

Halaman Selanjutnya

“Saya beberapa kali mempertanyakan kenapa tidak semuanya Windows atau kenapa Chrome menjadi mayoritas. Saya minta ditunjukkan kedua sisi argumentasi agar objektif,” kata Nadiem.

Tinggalkan komentar