loading…
Inisiatif mata uang bersama BRICS yang berbasis emas, yang dikenal sebagai Unit, menghadapi berbagai tantangan kompleks menjelang rencana peluncuran global. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA – Inisiatif mata uang bersama BRICS berbasis emas, yang disebut “Unit”, mengalami banyak tantangan rumit sebelum rencananya diluncurkan secara global. Proyek ambisius yang dibuat untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS ini terkendala masalah-masalah mendasar, seperti kesenjangan infrastruktur teknis, koordinasi kebijakan antarnegara anggota yang belum kuat, hingga rasa skeptis yang tumbuh tentang kelayakan dan legitimasinya.
Dikutip dari Watcher Guru, tantangan terbesar justru datang dari dalam blok itu sendiri, yaitu belum ada kesepakatan menyeluruh tentang kerangka dasar mata uang bersama. Sikap negara-negara anggota sangat berbeda. Presiden Rusia Vladimir Putin, contohnya, pada November 2024 menyatakan bahwa Rusia tidak berencana meninggalkan dolar AS, sebuah pernyataan yang meredam semangat sebelumnya. India dengan tegas menolak konsep mata uang bersama karena khawatir akan balasan dagang dari Amerika Serikat.
Sementara itu, China yang punya cadangan emas terbesar di blok ini masih memilih diam tentang partisipasi resminya. Brasil, meski awalnya antusias, belum menunjukkan dukungan konkret yang cukup. Perbedaan pandangan yang tajam ini menciptakan masalah koordinasi serius, menghalangi terwujudnya sistem moneter terpadu yang menjadi cita-cita awal.
Di sisi teknis, kredibilitas proyek ini juga diragukan. Program percobaan yang diluncurkan pada 31 Oktober 2025 dengan menerbitkan 100 Unit oleh International Research Institute for Advanced Systems ternyata memiliki dokumen dengan kesalahan penulisan dan spesifikasi yang tidak lengkap. Sampai Desember 2024, bank sentral utama negara-negara BRICS juga belum memberikan konfirmasi lengkap tentang sistem operasional yang akan dipakai.
Infrastruktur pendukung juga jadi masalah besar. Untuk menyimpan sekitar 6.000 ton emas yang jadi dasar aset, dibutuhkan fasilitas penyimpanan aman berkapasitas sekitar 300 meter kubik dengan biaya perawatan tahunan yang diperkirakan mencapai 579 hingga 965 juta dolar AS. Rencana implementasi yang ada saat ini dinilai belum memenuhi kebutuhan logistik dan keamanan yang sangat penting ini.