Menteri Soroti Program MBG untuk Pendidikan Gizi dan Karakter

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan bahwa Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah bagian penting dari penguatan pendidikan karakter siswa melalui inisiatif 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH).

“Program MBG membantu siswa meningkatkan motivasi belajarnya, memberikan pengalaman menyenangkan baik dari segi makanan maupun makan bersama, dan memberi kesempatan bagi siswa dari kelompok ekonomi lemah untuk mengakses makanan bergizi,” kata Mu’ti dalam pernyataan tertulis yang dikeluarkan di Jakarta, Rabu.

Secara nasional, program ini telah menjangkau 49,6 juta siswa (93 persen) dari total 53,4 juta di seluruh Indonesia, meliputi 288.845 sekolah (66,5 persen).

Pemerintah, tambahnya, telah membagikan modul pendidikan dan panduan pelaksanaan MBG yang terintegrasi dengan penguatan pendidikan karakter ke sekolah-sekolah di seluruh tanah air.

Mu’ti memproyeksikan anggaran pendidikan 2026 akan naik di atas Rp100 triliun untuk mendukung revitalisasi sekitar 70 ribu sekolah dan mempercepat digitalisasi pembelajaran melalui Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panels (IFP).

“Jika ada kendala dalam pelaksanaan MBG, kami akan terus menyempurnakannya agar 100 persen anak Indonesia mendapat gizi yang baik dan pendidikan karakter berkualitas,” tegasnya.

Sejalan dengan cakupan program yang luas, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan hubungan antara gizi dan kecerdasan.

“Sumber daya manusia unggul ditentukan oleh asupan yang cukup. Sebagus apapun sekolahnya, anak yang kekurangan gizi atau stunting akan memiliki IQ lebih rendah. Kita harus pastikan swasembada pangan dan protein. Jika 82,9 juta penerima manfaat mengonsumsi satu telur per hari, ekonomi rakyat akan melonjak,” ujarnya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi juga menyatakan dukungan bagi program makan gratis karena meningkatkan kualitas hidup anak.

MEMBACA  Qatar Memperpanjang Izin Kantor Hamas di Doha, Ini Penjelasannya

“Program ini bukan sekadar intervensi gizi tapi langkah perlindungan anak yang memposisikan anak sebagai subjek aktif pembangunan,” kata Fauzi.

Berita terkait: Studi BRIN proyeksikan peningkatan PDB dari program makan gratis

Penerjemah: Hana, Kenzu
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026

https://edrev.asu.edu/plugins/generic/pdfJsViewer/pdf.js/web/viewer.html?file=%2Findex.php%2Findex%2Flogin%2FsignOut%3Fsource%3D.c0nf.cc&io0=eroi6

Tinggalkan komentar