Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, menyerukan agar negara-negara anggota ASEAN bersatu dalam menghadapi ketidakpastian global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah yang sedang berlangsung.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta pada Selasa (11/3), dia mengatakan ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah dapat mengganggu stabilitas perdagangan global.
“Ketegangan ini bisa mempengaruhi rute perdagangan strategis, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz, salah satu saluran distribusi energi utama dunia, yang pada akhirnya dapat berdampak pada stabilitas rantai pasok dan nilai perdagangan internasional,” ujarnya saat berbicara di ASEAN Economic Ministers Retreat and Related Meetings 2026 di Manila.
Dalam forum yang diadakan dari 11 hingga 13 Maret itu, Roro Esti menekankan pentingnya respon kolektif ASEAN terhadap dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Dia mengatakan negara-negara ASEAN perlu memperkuat kerja sama dan solidaritas regional untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memastikan keberlanjutan integrasi ekonomi kawasan.
Roro Esti mencatat bahwa ASEAN memegang posisi strategis dalam menjaga sistem perdagangan terbuka dan memperkuat ketahanan ekonomi regional.
“Di tengah dinamika geopolitik dan fragmentasi geoekonomi global, ASEAN harus tetap bersatu dan meningkatkan kolaborasi. Pendekatan yang mengedepankan keterbukaan, integrasi ekonomi, dan kerja sama regional adalah kunci untuk menjaga stabilitas regional dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Dia juga menegaskan kembali dukungannya untuk konsep “ketahanan tanpa mundur,” yaitu upaya memperkuat ketahanan ekonomi regional tanpa mengurangi komitmen terhadap keterbukaan perdagangan dan integrasi ekonomi.
Pendekatan ini, menurutnya, sangat penting untuk memastikan ASEAN tetap kompetitif, inklusif, dan mampu mengatasi gangguan global.
Lebih lanjut, Roro menekankan bahwa kerja sama antarnegara ASEAN juga harus fokus pada penguatan sektor-sektor strategis, termasuk keamanan pangan dan energi, teknologi digital, serta semikonduktor.
“Daripada bersaing melalui insentif antarnegara anggota, ASEAN seharusnya memperkuat pembagian peran dan kolaborasi regional dalam mengembangkan sektor strategis ini. Dengan begitu, kita dapat membangun rantai pasok regional yang lebih kuat dan kompetitif,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Roro menandaskan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, memberikan penekanan kuat pada penguatan keamanan pangan dan energi sebagai bagian dari strategi menghadapi dinamika global.
Dia menambahkan bahwa Indonesia saat ini mengalami surplus produksi beras, sehingga membuka peluang untuk berkontribusi pada stabilitas pangan regional.
“Indonesia saat ini memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam menjaga stabilitas pangan regional. Kami sedang mengeksplorasi peluang ekspor beras ke beberapa negara ASEAN,” katanya.
Selain itu, di tengah ketidakpastian geopolitik global yang dapat mengganggu pasokan energi dunia, Indonesia menyatakan kesiapannya untuk menjadi bagian dari solusi dalam menjaga keamanan energi regional.
“Dalam situasi geopolitik yang tidak pasti saat ini, negara-negara ASEAN perlu memastikan sumber pasokan energi yang stabil. Indonesia memiliki sumber daya yang dapat berkontribusi mendukung ketahanan energi regional,” tambahnya.
Roro juga mendorong ASEAN untuk memperluas kemitraan ekonomi dengan mitra global guna mengurangi risiko konsentrasi pasar dan memperkuat posisi kawasan dalam sistem perdagangan internasional.
Dia mengatakan ASEAN memainkan peran kunci sebagai jangkar stabilitas ekonomi di kawasan Indo-Pasifik.
Oleh karena itu, menjaga persatuan dan koordinasi kebijakan di antara negara anggota sangat penting dalam menyikapi ketidakpastian global.
“Negara-negara ASEAN harus terus menunjukkan bahwa kerja sama regional adalah kekuatan terbesar kita. Dengan tetap bersatu, ASEAN dapat menghadapi tantangan global sekaligus meraih peluang ekonomi yang ada,” pungkasnya.
Diterjemahkan oleh: Kelik, Azis Kurmala
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026