Jakarta (ANTARA) – Menteri HAM Natalius Pigai mendesak polisi untuk menyelidiki aksi intimidasi dan ancaman yang ditujukan pada aktivis serta influencer media sosial setelah mereka mengkritik penanganan pemerintah atas banjir dan tanah longsor di Sumatra.
“Menanggapi intimidasi dan teror terhadap beberapa influencer, saya minta polisi melakukan penyelidikan tuntas untuk mengungkap motif dan mengambil tindakan tegas pada pelakunya,” kata Pigai dalam pernyataan tertulis pada Jumat.
Menteri menyebut Indonesia sedang mengalami apa yang ia gambarkan sebagai “surplus demokrasi,” di mana warga bebas menyampaikan pikiran dan pendapat tanpa pembatasan, termasuk dari pemerintah.
Ia menyambut baik kritik yang disampaikan aktivis dan influencer, menekankan bahwa ekspresi tersebut tetap dalam koridor kebebasan berpendapat. “Dalam hal ini, lembaga pemerintah tidak membatasi hak ini dengan cara apapun,” ujar Pigai.
Pigai menampik tuduhan bahwa pemerintah berada di balik intimidasi, menegaskan bahwa aksi itu tidak dilakukan oleh aktor negara.
Meski demikian, ia mengimbau publik menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, menghindari serangan pribadi terhadap individu atau institusi, dan tidak menggunakan kritik hanya untuk mencari perhatian atau popularitas di media sosial.
Ia juga menekankan pentingnya kritik yang rasional, mengingatkan untuk menghindari kesesatan logika seperti serangan ad hominem, manipulasi emosi, dan generalisasi berlebihan. Publik, tambahnya, juga harus merespons informasi di media sosial secara rasional.
Menteri juga mengingatkan agar publik tidak menggambarkan pemerintah sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas bencana alam di Sumatra, mengingat belum ada investigasi resmi yang menentukan kesalahan atau kelalaian.
Pasca mengkritik respons bencana pemerintah, sejumlah aktivis dan influencer melaporkan mendapat ancaman dari orang tak dikenal.
Ramon Dony Adam, yang dikenal sebagai DJ Donny, melaporkan bangkai ayam dan surat ancaman dikirim ke rumahnya pada 29 Desember. Dua hari kemudian, bom molotov dilempar ke rumahnya.
Iqbal Damanik, aktivis Greenpeace Indonesia, juga menerima bangkai ayam dan surat ancaman di kediamannya, yang memperingatkannya untuk “jaga ucapan jika ingin keluarga aman.”
Influencer lain, Sherly Annavita, melaporkan mobilnya dirusak, sementara surat ancaman yang menuduhnya berbicara untuk keuntungan pribadi dikirim ke rumahnya antara tanggal 29 dan 30 Desember.
Berita terkait: Kementerian libatkan influencer sebarkan informasi program pemerintah
Penerjemah: Fath Putra Mulya, Nabil Ihsan
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026
https://iieta.org/ojs/index.php/index/user/getInterests?term=44742019229&o2x=UjstN