Melemahnya Rupiah Masih Lebih Unggul daripada Negara-Negara Tetangga Indonesia

Rabu, 11 Maret 2026 – 18:14 WIB

Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, depresiasi alias pelemahan nilai tukar rupiah sejak Perang Iran dengan AS-Israel pecah, masih lebih baik dibandingkan dengan pelemahan pada mata uang negara-negara lainnya.

Menurutnya, rupiah masih terdepresiasi secara moderat sejalan dengan penguatan dolar AS secara global. Namun, posisinya relatif lebih baik dibandingkan banyak peer countries (negara-negara sejawat).

“Rupiah terdepresiasi 0,3 persen (month-to-date/mtd atau sejak perang dimulai hingga hari ini). Ini jauh lebih baik dibandingkan dengan mata uang negara-negara di sekeliling kita,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA Edisi Maret 2026, Rabu (11/3/2026).

Dia memberikan contoh, Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,5 persen (mtd), dan Baht Thailand turun 1,6 persen (mtd). Lalu, Peso Filipina juga terdepresiasi 1,4 persen (mtd), dan Dolar Singapura terdepresiasi 0,3 persen (mtd).

“Ini mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fiskal-moneter yang kuat,” ujarnya.

Purbaya mengaku banyak masyarakat yang menyampaikan kritik padanya melalui media sosial terkait pelemahan rupiah. Dia meminta publik untuk menilai secara adil dan membandingkan posisi rupiah dengan mata uang negara lain.

“(Rupiah) kita masih oke. Artinya, kita masih dianggap menjaga kebijakan fiskal dan moneter yang baik, dan fondasi ekonomi kita cukup baik,” kata Purbaya.

Dia berharap kinerja fundamental ekonomi Indonesia yang positif itu akan mampu terus mendorong penguatan pasar modal domestik, terutama pada investasi saham.

“Kalau ekonominya, fundamentalnya baik terus, otomatis pelan-pelan saham akan naik lagi ke level yang lebih baik dari sekarang,” ujarnya.

Diketahui, pada perdagangan di pasar spot Rabu (11/3/2026) hingga pukul 09.12 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 16.858 per dolar AS. Posisi ini menguat 5 poin atau 0,03 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.863 per dolar AS.

MEMBACA  Penawaran TV Terbaik Hari Buruh 2024: Lebih dari 50 Diskon Menarik pada TV dari Sony, TCL, dan Lainnya

Kekhawatiran Cadangan Devisi

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan cadangan devisa Indonesia dikhawatirkan semakin tergerus seiring pelemahan rupiah akibat tekanan global, terutama imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

"Posisi cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 pun sudah semakin menipis, hingga tersisa US$151,9 miliar. Jumlah itu kian susut dari posisi awal pada Januari 2026 sebesar US$154,6 miliar," ujarnya.

Tinggalkan komentar