Senin, 30 Maret 2026 – 08:53 WIB
VIVA – Serangan artileri Israel menargetkan markas unit Indonesia yang bertugas di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) di desa Adshit al-Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu 29 Maret 2026. Demikian menurut Kantor Berita Nasional Lebanon dan media lokal.
UNIFIL mengonfirmasi serangan yang menewaskan seorang penjaga perdamaian setelah sebuah proyektil meledak di dekat posisinya. Personil penjaga perdamaian lain juga mengalami luka-luka kritis, seperti dinyatakan UNIFIL dalam pernyataannya di hari Senin.
“Kami belum tahu asal proyektil tersebut. Investigasi telah diluncurkan untuk mencari tahu semua faktanya,” kata UNIFIL.
Pasukan UNIFIL ditempatkan di Lebanon selatan untuk memantau permusuhan di sepanjang garis demarkasi dengan Israel—sebuah wilayah yang kerap jadi lokasi bentrokan antara tentara Israel dan pejuang Hizbullah yang didukung Iran.
Misi yang akan berakhir pada akhir 2026 ini sudah beberapa kali terjebak dalam sasaran Israel dan Hizbullah. Insiden terbaru ini kembali menekankan risiko yang ada.
Sebelumnya, pada 6 Maret, militer Ghana menyatakan markas batalion penjaga perdamaian PBB di Lebanon terkena serangan rudal yang melukai dua prajuritnya.
Militer Israel kemudian mengakui bahwa tembakan tank mereka mengenai posisi PBB di hari itu dan melukai pasukan Ghana. Mereka menyebut tindakan itu sebagai respons atas tembakan rudal anti-tank dari Hizbullah yang melukai dua tentara Israel.
“Kami sekali lagi menyerukan semua pihak untuk mematuhi kewajiban hukum internasional dan menjamin keselamatan personel serta aset PBB setiap saat, termasuk dengan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan pasukan penjaga perdamaian,” tegas UNIFIL.
Lebanon terseret dalam konflik Timur Tengah setelah Hizbullah melancarkan roket ke Israel pada 2 Maret sebagai solidaritas pada Teheran. Serangan itu terjadi dua hari setelah Iran diserang oleh Israel dan Amerika Serikat, dan memicu serangan balasan Israel terhadap kelompok tersebut.