Rabu, 8 April 2026 – 11:16 WIB
Sorotan tajam jatuh ke Maarten Paes setelah Ajax Amsterdam kalah 1-2 dari klub bek Timnas Indonesia, Mees Hilgers, yaitu FC Twente di Johan Cruijff Arena.
Bermain dominan di kandang sendiri, Ajax malah gagal memaksimalkan peluang. Mereka lebih dulu kebobolan oleh Ramiz Zerrouki (18’) sebelum sempat menyamakan kedudukan lewat Wout Weghorst (32’). Tapi gol Bart van Rooij di menit ke-79 memastikan kemenangan untuk tim tamu.
Hasil ini menjadi pukulan berat. Ajax kini tertinggal di posisi kelima dan semakin menjauh dari zona Liga Champions—situasi yang langsung memicu kritik pedas dari para pengamat di Belanda.
Legenda Ajax, Wim Kieft, termasuk yang paling vokal. Dia menilai permainan Ajax jauh dari kata meyakinkan.
"Ajax bermain buruk, tetapi FC Twente bermain cukup bagus. Mereka juga tidak mengalami kesulitan. FC Twente adalah tim yang percaya diri dan bek sayap mereka sangat menghibur," kata Kieft.
Tidak berhenti disitu, Kieft juga menyoroti performa Paes di bawah mistar. Menurutnya, distribusi bola sang kiper menjadi masalah serius dalam skema permainan Ajax.
"Mereka terus melakukan hal ini di Ajax. Paes terus memberikan umpan-umpan itu kepada Josip Sutalo."
"Saya benar-benar tidak mengerti apa-apa tentang itu."
Kritik serupa datang dari Rafael van der Vaart. Mantan bintang Tottenham Hotspur itu mempertanyakan kualitas build-up lini belakang Ajax yang dinilai jauh dari standar.
"Tapi seharusnya bisa lebih baik dari ini, kan? Ini sungguh tidak bisa dipercaya."
Secara statistik, performa Paes memang kurang bagus. Dia mendapat rating terendah di tim dengan angka 5,6. Meski membuat tiga penyelamatan penting, dua gol yang masuk ke gawangnya tetap menjadi catatan negatif.
Sepanjang pertandingan, kiper berdarah Kediri itu mencatat 51 sentuhan dengan akurasi umpan 74 persen—angka yang dinilai belum cukup untuk meredam kritik soal distribusi bolanya.
Sejak absennya Vitezslav Jaros karena cedera, Paes memang menjadi pilihan utama di bawah pelatih seperti Fred Grim dan Oscar Garcia.
Namun dengan tekanan yang terus meningkat dan performa tim yang belum stabil, posisi Paes sekarang bukan lagi hanya soal tampil—tapi juga soal pembuktian diri.