Laporan Pinhome: KPR Tenor Panjang Semakin Digemari, Strategi Masyarakat Menjaga Likuiditas Keuangan

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Semester kedua 2025 jadi periode yang dinamis buat pasar properti nasional.

Ketegangan sosial, ekonomi, politik, sampai lingkungan berpengaruh langsung pada daya beli dan prioritas belanja masyarakat. Ini membentuk lanskap pasar perumahan yang beda dari tahun-tahun sebelumnnya.

Menurut data Pinhome Indonesia Residential Market Report Semester II 2025 & Outlook 2026, pasar residensial menghadapi fenomena stagnasi inventori yang signifikan.

Rata-rata penambahan inventori rumah baru per bulan turun sampai 14 persen, yang mencerminkan penurunan suplai rumah primer.

Kondisi ini dilihat sebagai peluang bagi pengembang yang punya stok rumah siap huni untuk memenuhi kebutuhan beli cepat. Apalagi, kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) masih berlaku sampai akhir 2027.

Di sisi lain, inventori rumah sekunder justru menunjukkan tren kenaikan. Rata-rata pertumbuhan penambahan inventori rumah bekas mencapai 5 persen per bulan sepanjang Semester II 2025. Ini terutama terjadi di wilayah penyangga DKI Jakarta seperti Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan. Masing-masing daerah ini menyumbang 8 persen dari total penambahan inventori rumah sekunder.

CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, bilang kenaikan inventori rumah sekunder ini terkait dengan dinamika ekonomi nasional sepanjang 2025.

“Tekanan ekonomi selama 2025, mulai dari gelombang PHK di berbagai sektor industri sampai naiknya biaya hidup, mendorong sebagian pemilik properti untuk melepas aset hunian mereka. Tujuanya untuk menjaga likuiditas keuangan,” kata Dayu Dara Permata, seperti dikutip dalam keterangan resmi, Rabu (18/2/2026).

Hal ini diperkuat dengan makin banyaknya listing properti dengan label ‘Butuh Uang (BU)’, ‘Jual Cepat’, serta penawaran harga di bawah pasar.

Pinhome mencatat ada kontras tren antara kawasan industri dan kawasan residensial komuter.

MEMBACA  Yang Perlu Anda Ketahui Sebelum Rilis Laporan Keuangan General Dynamics

Sektor manufaktur yang tetap ekspansif jadi penggerak permintaan properti di kawasan industri. Wilayah Cikarang mencatat pertumbuhan permintaan hingga 16 persen pada Semester II 2025 dibanding semester sebelumnya.

Sebaliknya, kawasan residensial komuter di Bekasi alami koreksi permintaan yang cukup dalam di periode yang sama. Tambun tercatat turun 22 persen dan Cibitung turun 9 persen dibandingkan Semester I 2025.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa kedekatan rumah dengan tempat kerja jadi prioritas utama masyarakat. Jadi, dinamika sektor industri menjadi faktor penting yang membentuk permintaan properti di wilayah penyangga.

Tinggalkan komentar