Makassar, Sulawesi Selatan (ANTARA) – Indonesia telah mengidentifikasi kesepuluh korban pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, pekan lalu.
“Kami sudah mengidentifikasi seluruh 10 korban, yang terdiri dari tujuh awak kabin dan tiga penumpang,” ujar Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Djuhandani Rahardjo Puro dalam konferensi pers di Makassar pada Sabtu.
Kesepuluh korban teridentifikasi dari sekitar 11 kantong jenazah yang diterima tim Disaster Victim Identification (DVI) dari petugas penyelamat yang diterjunkan ke lokasi kecelakaan. Kiriman terakhir kantong jenazah diterima pada Jumat (23 Januari).
Tim DVI berhasil menetapkan identitas semua korban sesuai manifest penerbangan, katanya. Proses ini terbantu oleh kondisi jenazah korban.
“Satu kantong jenazah lainnya berisi tulang belulang, yang bisa kami konfirmasi milik salah satu korban,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulawesi Selatan Komisaris Besar Muh. Haris menyebut identifikasi dilakukan dengan sidik jari, rekam gigi, barang pribadi, dan data medis.
Haris juga mengonfirmasi bahwa semua korban telah diserahkan ke keluarga mereka.
Kiriman terakhir korban kecelakaan ATR 42-500 yang diidentifikasi tim DVI adalah sebagai berikut:
– Yoga Nouval Prakoso (penumpang), operator foto udara dari Kementerian Kelautan dan Perikanan;
– Ferry Irawan, 41 tahun (penumpang), dari Kementerian Kelautan dan Perikanan;
– Muhammad Farhan Gunawan, 26 tahun (co-pilot);
– Hariadi, 57 tahun (awak kabin);
– Dwi Murdiono, 40 tahun (awak kabin);
– Restu Adi Pribadi, 40 tahun (awak kabin);
– Andi Dahananto, 58 tahun (pilot).
Adapun tiga korban lainnya telah diidentifikasi lebih awal oleh tim dan telah diserahkan ke keluarga masing-masing. Mereka adalah:
– Esther Aprilita Binarsit Sianipar, 26 tahun (pramugari);
– Florencia Lolita Wibisono, 33 tahun (pramugari);
– Deden Maulana (penumpang), pejabat pengelola aset dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak dekat perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan sebelum jadwal mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin pada Sabtu (17 Januari).
Reruntuhan pesawat ditemukan di pegunungan Bulusaraung pada keesokan harinya (18 Januari).
Pada hari yang sama, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menyatakan lembaganya menggolongkan kecelakaan ini sebagai kasus Controlled Flight Into Terrain (CFIT).