Konflik Iran-Amerika Serikat dan Israel: Ujian Kredibilitas Narasi Perdamaian Global

loading…

Serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada bulan Ramadan ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang komitmen Washington untuk perdamaian global. Foto/Ilustrasi/X/@IsraelArmyStan

JAKARTA – Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran di bulan Ramadan ini membuka pertanyaan penting tentang komitmen Washington untuk perdamaian global. Dalam dua bulan terkahir di 2026, setelah serangan ke Venezuela, Washington kembali menunjukkan sikap unilateral terhadap negara berdaulat, yang dianggap mengancam kepentingan strategisnya.

Director of Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD), Ahmad Khoirul Umam menjelaskan, dari sudut pandang Coercive Diplomacy, saat kekuatan militer jadi instrumen utama geopolitik, norma multilateralisme dan hukum internasional hanya jadi hiasan simbolis saja. Serangan ke Iran ini memperjelas kontradiksi antara retorika stabilitas dan aksi militer di lapangan, sekaligus menguji kredibilitas narasi perdamaian melalui Board of Peace (BOP).

Baca juga: Putri, Menantu, dan Cucu Khamenei Juga Tewas Diserang AS-Israel

"Bagi negara-negara Islam yang cukup independen seperti Turki dan Indonesia, momen ini jadi kesempatan untuk refleksi strategis guna meninjau ulang kerja sama BOP tentang Gaza dan arsitektur diplomasi kawasan," kata Ahmad Khoirul Umam dalam keterangannya, Minggu (1/2/2026).

MEMBACA  Habiburokhman Siap Menyapa Ribuan Pintu, Kumpulkan Dukungan untuk Ridwan Kamil-Suswono

Tinggalkan komentar