Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago. Foto: Tangkapan layar
JAKARTA – Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago menilai kericuhan dalam dialog "Kopdar Bareng Mas Dar" di Universitas Gadjah Mada (UGM) gak bisa dilepaskan dari akumulasi ketidakpercayaan atau distrust masyarakat terhadap pemerintah. Meski begitu, Pangi bilang tindakan membubarkan atau mengganggu jalannya diskusi tetap gak bisa dibenarkan dalam prinsip demokrasi.
"Itu gak boleh dibenarkan. Sampai kiamat pun gak boleh dibenarkan. Karena itu keluar dari asas-asas demokrasi," kata Pangi dalam program Interupsi bertajuk ‘Kisruh Diskusi UGM: Ruang Dialog atau Konflik?’ yang disiarin iNews, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, di balik kericuhan itu ada masalah yang lebih mendasar. Belakangan ini, kepercayaan publik terhadap pemerintah udah turun drastis dan ini udah berlangsung lumayan lama.
Menurut Pangi, distrust publik gak muncul tiba-tiba. Dia ngaitinnya dengan kekecewaan masyarakat ke sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari isu harga kebutuhan pokok, energi, sampe pengelolaan program negara yang dianggap kurang melibatkan partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan.
"Misalnya dulu kan kenaikan bensin BBM itu harus di DPR, penuh kehati-hatian, deliberatif. Tapi itu dinormalisasi sama rezim sebelumnya juga. Tiba-tiba naik malam hari, tiba-tiba turun siang hari," katanya.