Minggu, 15 Maret 2026 – 11:35 WIB
Majalengka, VIVA – Di sebuah sudut kampung yang tak pernah benar-benar sepi dari suara denting tanah liat dan deru mesin cetak, usaha genteng milik Hena Gian Hermana tumbuh perlahan-lahan tapi pasti. Dari halaman rumah sederhana, tumpukan genteng berjajar rapi, mengering di panas matahari sebagai saksi perjalanan panjang seorang pengusaha kecil yang bertahan di tengah perubahan zaman.
Bagi Gian, genteng bukan cuma material bangunan biasa. Di balik setiap kepingnya, ada cerita tentang ketekunan, keberanian ambil resiko, dan keyakinan bahwa usaha tradisional juga bisa maju kalau dijalankan dengan baik.
Dia bilang, pabrik genteng yang berdiri sejak tahun 1985 ini awalnya muncul karena tingginya permintaan genteng pada masa itu. Sementara itu, kapasitas produksi pabrik-pabrik genteng di daerah Jatiwangi belum bisa memenuhi kebutuhan pasar yang terus naik.
Tapi sayang, permintaan tinggi itu terkendala berbagai tantangan seperti perubahan zaman, persaingan produk yang ketat, biaya produksi mahal, bahan baku terbatas, jumlah pekerja berkurang, sampai keterbatasan modal.
“Kalau bicara usaha pabrik genteng, pasti nggak lepas dari pasang surut. Tantangan zaman, persaingan produk, biaya produksi tinggi, bahan baku terbatas, dan kurangnya pegawai jadi faktor yang bikin banyak pabrik genteng tutup,” kata Gian.
Perjalanan usahanya mulai berubah saat dia menjadi nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Akses pembiayaan yang lebih mudah dan terjangkau memberinya kesempatan untuk memperluas usahanya.
Tambahan modal itu dipakai untuk beli mesin cetak yang lebih modern dan memperbaiki tungku pembakaran agar lebih efisien. Dampaknya sangat terasa. Kapasitas produksi meningkat, kualitas genteng lebih seragam, dan waktu pengerjaan jadi lebih cepat.
“BRI ini tentu jadi mitra utama bagi pengusaha pabrik genteng, karena BRI punya fasilitas pinjaman bunga rendah KUR untuk pelaku UMKM seperti kami, jadi kami bisa terus produksi genteng,” jelasnya.
Tak cuma soal pembiayaan, pendampingan dari BRI juga bantu Gian lebih tertib dalam mengelola keuangan usaha. Dia mulai memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat arus kas, sampai merencanakan pengembangan jangka panjang.