Keutamaan, Hukum, dan Tata Cara Mengqadha Puasa Ramadhan, Serta Pembahasan Seputar Niat

Jumat, 3 April 2026 – 04:38 WIB

Jakarta, VIVA – Bulan Syawal adalah momen yang ditunggu-tunggu umat Muslim untuk menyempurnakan ibadah dengan menjalankan puasa sunnah enam hari. Tapi, sering ada kebingungan: mana yang harus didulukan, bayar utang puasa (qadha) atau puasa sunnah Syawal?

1. Keutamaan: Pahalanya Seperti Puasa Setahun

Keutamaan utama puasa Syawal adalah pahalanya yang besar, seakan-akan kita berpuasa selama setahun penuh. Ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

“Siapa yang berpuasa Ramadhan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti telah puasa satu tahun.” (HR. Muslim)

2. Mana yang Lebih Dulu: Qadha atau Syawal?

Menurut penjelasan ulama, lebih baik menyelesaikan qadha dulu. Alasannya, dalam hadis di atas disebutkan “siapa yang berpuasa Ramadhan”, artinya puasa Ramadhannya harus sudah lengkap (termasuk ganti yang bolong) baru dapat keutamaan Syawal. Selain itu, mengerjakan yang wajib harus didahulukan dari yang sunnah.

3. Bolehkah Gabungkan Niat?

Ada perbedaan pendapat ulama tentang menggabungkan niat. Sebagian ulama berpendapat pahala sunnah tetap didapat meski cuma niat qadha. Tapi, pendapat yang lebih hati-hati menyarankan untuk memisahkannya agar ibadah lebih mantap. Jika mau menggabungkan, sebagian ulama memperbolehkan dengan niat: “Saya niat puasa qadha Ramadhan sekaligus puasa sunnah Syawal.”

4. Ketentuan untuk Istri: Harus Izin Suami

Bagi istri, penting diingat bahwa untuk puasa sunnah seperti Syawal wajib minta izin suaminya jika suami ada di rumah.

Kesimpulan

Puasa Syawal tidak harus berurut. Bisa dicicil selama bulan Syawal masih ada. Tapi, prioritas utama tetap menuntaskan utang puasa Ramadhan dulu agar kewajiban selesai dan pahala sunnahnya jadi lebih sempurna.

Semoga bermanfaat untuk pembaca setia kanal religi Viva.co.id.

MEMBACA  Petunjuk dan Jawaban Edisi OlahragaNYT Connections Hari Ini1 Februari #496

Tinggalkan komentar