Keraton Yogyakarta Akhiri Peran Gajah dalam Prosesi Grebeg Syawal

Yogyakarta (ANTARA) – Keraton Yogyakarta menyatakan gajah tidak akan lagi muncul dalam prosesi Grebeg Syawal tahun 2026. Keputusan ini menyelaraskan upacara berabad-abad itu dengan regulasi baru Indonesia yang melarang demonstrasi tunggang gajah di lembaga konservasi.

KPH Notonegoro, komandan prajurit Keraton Yogyakarta dan pejabat senior Kawedanan Kaprajuritan, mengatakan keputusan ini mengikuti Surat Edaran Nomor 6/2025 dari direktorat konservasi Kementerian Kehutanan.

"Mulai Garebeg Sawal Dal 1959, gajah tidak akan lagi ikut dalam prosesi gunungan dan pareden," kata Notonegoro dalam pernyataan yang dirilis di Yogyakarta pada Jumat.

Grebeg Syawal merupakan bagian dari Hajad Dalem keraton untuk menandai Idul Fitri 1447 Hijriah di Keraton Yogyakarta.

Perayaan tahunan ini dijadwalkan pada Jumat, 20 Maret, dan biasanya menarik ribuan warga serta pengunjung yang ingin menyaksikan prosesi keraton dan menerima gunungan.

Persiapan akan dimulai dengan berkumpulnya prajurit keraton pukul 06.30 waktu setempat di kompleks Kamandhungan Kidul dalam lingkungan keraton.

Sekitar pukul 09.00, prosesi prajurit keraton dan gunungan akan bergerak dari Siti Hinggil menuju pelataran Pagelaran.

Gunungan adalah susunan berbentuk kerucut dari hasil bumi dan makanan tradisional yang melambangkan kemakmuran dan rasa syukur dalam tradisi keraton Jawa.

Di akhir upacara, gunungan diperebutkan oleh publik, momen yang sangat dinantikan warga yang percaya barang-barang tersebut membawa berkah.

Perayaan Garebeg Sawal Dal 1959 telah dimulai lebih awal dengan ritual Numplak Wajik tradisional yang menandai persiapan bahan gunungan.

KRT Kusumonegoro, pejabat keraton dari kantor Kawedanan Reksa Suyasa, mengatakan ritual itu digelar di Panti Pareden, kompleks Magangan.

Upacara ini berlangsung pada Selasa (17 Maret 2026) siang setelah salat Asar dan melibatkan abdi dalem menyiapkan wajik, makanan manis dari ketan yang jadi bahan utama gunungan.

"Bagi yang ingin menyaksikan ritualnya dipersilakan, tapi kami minta pengunjung menjaga ketertiban," ujar Kusumonegoro.

MEMBACA  Boeing menawarkan proposal kerja sama yang lebih menarik dalam tawaran terbaik dan final

Keraton juga mengimbau masyarakat yang menghadiri acara Idul Fitri dan Grebeg Syawal untuk tertib selama perayaan.

Penonton diminta memberi jalan kepada prajurit keraton yang berbaris dan prosesi gunungan sebelum pembagian berlangsung.

Pihak berwajib memperkirakan kerumunan besar akan memadati upacara ini, salah satu tradisi keraton paling terkenal yang diadakan tiap tahun di Yogyakarta.

Selama perayaan Idul Fitri, keraton juga akan memberlakukan larangan penerbangan drone dan alat sejenisnya di area keraton.

Larangan berlaku hingga ketinggian 150 meter di atas permukaan tanah untuk memastikan prosesi berjalan lancar dan aman.

Kementerian Kehutanan Indonesia menerbitkan Surat Edaran No. 6/2025 pada 18 Desember 2025, secara resmi mengakhiri aktivitas tunggang gajah di pusat konservasi nasional.

Regulasi ini mencerminkan upaya pemerintah memperkuat praktik manajemen dan konservasi satwa liar yang etis.

Pemerintah Indonesia memasukkan gajah Sumatera ke dalam mamalia kritis yang terancam punah.

Menurut data yang diterbitkan World Wildlife Fund (WWF), populasi gajah Sumatera diperkirakan sekitar 2.400–2.800 individu.

Kelompok konservasi global itu menyatakan produk gading masih ditemukan di pasar-pasar di Afrika dan Asia, serta di Amerika Serikat dan Eropa.

WWF telah memperingatkan bahwa perburuan liar terkait perdagangan gading ilegal tetap menjadi ancaman serius bagi populasi gajah liar di beberapa negara.

Berita terkait: Prabowo menyiapkan arahan untuk lindungi gajah Sumatera, Kalimantan

Penerjemah: Luqman H, Rahmad Nasution
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026