Kenaikan Harga Akibat Perang dengan Iran, Warga AS Mulai Menghemat Belanja Pangan

Jumat, 27 Maret 2026 – 00:02 WIB

Washington, VIVA – Warga Amerika mulai mengurangi maknan karena harga yang terus naik. Kenaikan ini dipicu oleh operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, seperti yang dikatakan Pemimpin Minoritas Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer.

"Banyak orang Amerika terpaksa melewatkan jam makan akibat perang di Iran yang dipilih secara sembrono oleh Presiden (Donald) Trump. Ini cuma satu contoh lagi bagaimana kebijakannya yang kacau membuat rakyat semakin susah beli kebutuhan pokok," tulis Schumer di platform X.

Pernyataannya itu menanggapi laporan media yang menyebut warga AS sekarang lebih irit belanja makanan. Uangnya dialihkan untuk menutupi biaya bahan bakar yang melonjak drastis setelah Selat Hormuz diblokade oleh Iran.

Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Eskalasi konflik ini mengakibatkan blokade de facto di Selat Hormuz. Padahal, selat ini adalah jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Gangguan ini turut mempengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan, sekaligus mendorong kenaikan harga berbagai komoditas. (Ant)

Iran Siapkan Aturan Pungutan Kapal di Selat Hormuz, Sumber Baru Pendapatan Negara

Iran sedang menyusun aturan baru untuk mengenakan biaya pada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Aturan ini dimaksudkan sebagai sumber pendapatan negara baru di tengah konflik kawasan yang melibatkan AS dan Israel.

VIVA.co.id | 26 Maret 2026

MEMBACA  Perang Rusia-Ukraina: Daftar peristiwa kunci, hari 1.150 | Berita Politik

Tinggalkan komentar