Kementerian Ajukan Tambahan Dana Rp5,1 Triliun untuk Pulihkan Sektor Pertanian di Sumatera

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pertanian mengalokasikan dana Rp1,49 triliun (sekitar US$88,3 juta) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 dan mengusulkan tambahan Rp5,1 triliun untuk mempercepat pemulihan pertanian di provinsi-provinsi di Sumatra yang terdampak bencana.

Dalam rapat kerja dengan Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta pada Rabu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa kementeriannya bergerak cepat untuk memulihkan sektor pertanian.

Dana Rp1,49 triliun yang tersedia saat ini akan digunakan untuk memperbaiki sistem irigasi dan sawah, memberikan bantuan benih, merehabilitasi tanaman perkebunan, serta menyediakan alat mesin pertanian, pupuk, dan pestisida.

Bantuan tersebut, menurutnya, diprioritaskan untuk wilayah yang paling terdampak, khususnya sawah dengan kerusakan ringan hingga sedang.

Untuk sawah yang mengalami kerusakan parah, menteri menekankan perlunya sinergi antar kementerian, termasuk dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Selain mengoptimalkan anggaran yang ada, Kementerian Pertanian memperkirakan diperlukan tambahan pendanaan Rp5,1 triliun untuk pemulihan menyeluruh sektor pertanian di provinsi-provinsi terdampak, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Sebagian besar dari anggaran tambahan Rp5,1 triliun itu, yaitu Rp3,4 triliun, akan digunakan untuk rehabilitasi sawah.

Alokasi juga mencakup Rp456,4 miliar untuk rehabilitasi area perkebunan, Rp19,1 miliar untuk bantuan benih hortikultura, Rp262,8 miliar untuk pakan ternak, Rp674,7 miliar untuk sarana dan prasarana, serta Rp291 miliar untuk rehabilitasi bangunan dan fasilitas pendukung lainnya.

Oleh karena itu, Menteri Sulaiman meminta dukungan dari Komisi IV untuk pengajuan anggaran tambahan tersebut agar pemulihan pascabencana di sektor pertanian dapat dipercepat.

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra pada akhir November 2025 tersebut terjadi akibat curah hujan dengan intensitas tinggi.

MEMBACA  Eko Yuli Irawan Mencetak Sejarah Baru dengan Memenangkan Tiket Olimpiade 2024

Berdasarkan data per 13 Januari 2026, total luas sawah yang terdampak di ketiga provinsi mencapai 107.324 hektare, terdiri dari 56.077 hektare rusak ringan, 22.152 hektare rusak sedang, dan 29.095 hektare rusak berat.

Pasca bencana, kurang lebih 44.600 hektare lahan padi dan jagung mengalami puso atau gagal panen.

Selain itu, 29.310 hektare area perkebunan non-sawit, seperti kopi, kakao, dan kelapa, juga terdampak.

Kerusakan pada lahan hortikultura mencapai 1.803 hektare, sementara jumlah ternak yang dilaporkan mati atau hilang telah melebihi 820.000 ekor.

Berita terkait: Indonesia membangun fondasi menjadi pemimpin pangan global

Berita terkait: Menteri minta SMK manfaatkan potensi pertanian daerah

Berita terkait: Indonesia tarik minat kerjasama pertanian G20 yang meningkat

Penerjemah: Muhammad Harianto, Raka Adji
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar