Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kesehatan Indonesia akan mengukur dampak program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kepada penerima manfaat melalui survei gizi nasional dan pemeriksaan tinggi serta berat badan dua kali setahun, kata para pejabat pada hari Kamis.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa pemantauan ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan dan akan melengkapi data dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang mendorong skrining dan deteksi dini penyakit.
Dia mengatakan survei gizi, yang sebelumnya dilakukan setahun sekali untuk melacak prevalensi stunting, kini akan diperluas untuk mencakup anak-anak usia sekolah di atas lima tahun.
“Ini akan memungkinkan kita untuk melacak perkembangan gizi anak-anak kita,” ujar Sadikin.
Menteri menambahkan bahwa temuan ini akan memberikan masukan untuk memperbaiki kebijakan di masa depan.
Aries Marsudiyanto, Kepala Pengawasan Pembangunan dan Investigasi Khusus, mengatakan pemerintah berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh guna memastikan MBG membantu menghasilkan generasi yang lebih sehat dan lebih cerdas.
Berita terkait: Pemerintah akan evaluasi program MBG secara menyeluruh.
Marsudiyanto mencontohkan Brasil, yang meluncurkan inisiatif serupa pada tahun 1955 dan menjangkau 40 juta penerima manfaat selama 11 tahun.
“Di Indonesia, MBG belum genap satu tahun, tapi sudah melayani sekitar 30 juta orang. Ini adalah program besar untuk membangun generasi emas Indonesia,” katanya.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebutkan bahwa skala dan dampak program yang luas ini juga membawa tantangan yang signifikan.
Pemerintah sedang menyusun regulasi untuk memperkuat sistemnya, tambahnya.
Hasan mengatakan aturan tersebut, yang diharapkan selesai dalam seminggu, akan berbentuk Peraturan Presiden atau Instruksi Presiden. Aturan ini akan mendefinisikan peran, kewenangan, dan tanggung jawab kementerian dan lembaga, serta memastikan koordinasi di antara mereka.
Berita terkait: Pemerintah respons keracunan makanan MBG: Vendor tidak aman akan ditutup.
Reporter: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2025