loading…
Masa kejayaan dolar AS sekarang hadapi tantangan baru di tengah ketidakpastian ekonomi AS. FOTO/Oilprice.com
JAKARTA – Masa kejayaan dolar Amerika Serikat (AS) sekarang hadapi tantangan baru. Karena meningkatnya ketidakpastian ekonomi AS, mata uang China, yuan, semakin menarik perhatian sebagai pesaing potensial global. Hal ini terjadi di tengah kerentanan dolar akibat kebijakan ekonomi Washington yang sering dianggap merugikan stabilitas keuangan internasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, dolar AS semakin sering dipakai sebagai alat politik. Penggunaan sanksi, tarif, dan embargo oleh Washington membuat negara-negara lain cari alternatif. Yuan muncul sebagai salah satu pilihan utama dalam perdagangan internasional, terutama di kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah.
Tekanan terhadap dolar AS makin kuat setelah Presiden AS Donald Trump gencar menerapkan tarif baru. Langkah ini memperburuk gejolak pasar dan mendorong Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan suku bunga. Kondisi ini membuka peluang bagi yuan untuk memperluas pengaruhnya di pasar global.
Sebagai respons, Beijing meluncurkan sistem pembayaran lintas batas bernama Cross-Border Interbank Payment System (CIPS). Melalui CIPS, bank-bank di berbagai negara bisa menyelesaikan transaksi secara realtime menggunakan yuan, mengurangi ketergantungan pada jaringan pembayaran berbasis dolar.
“Dalam situasi ketegangan geopolitik, infrastruktur pembayaran lintas batas tradisional rentan dipolitisasi dan dijadikan alat sanksi unilateral. Hal ini justru merusak tatanan keuangan internasional,” ujar Gubernur Bank Rakyat China (PBoC), Pan Gongsheng, saat berbicara di Forum Lujiazui, dikutip dari Watcher Guru, Senin (21/9).