Kapal Pertamina Masih Lotor di Hormuz, setelah Kapal Pertama Berhasil Keluar. Perihal Izin Lalu Lalas Berlanjut.

Pertamina Konfirmasi Proses Clearance Kapal Pertamina Pride Masih Berlangsung

Jakarta (ANTARA) – Pertamina, perusahaan minyak milik negara Indonesia, memastikan bahwa proses clearance untuk kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) bernama Pertamina Pride masih berlangsung. Kapal ini belum bisa keluar dari Selat Hormuz setelah kapal saudaranya, Gamsunoro, sudah berhasil meninggalkan selat tersebut pada bulan lalu.

“Proses clearance sedang berjalan untuk kapal Pertamina Pride,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, di Jakarta pada Kamis.

Baron menjelaskan bahwa situasi masih genting meskipun sudah ada perjanjian gencatan senjata antara pihak yang bertikai. Jika ketegangan muncul lagi, kapal mungkin harus menunggu lebih lama sebelum bisa keluar dari selat dengan bebas.

Minyak mentah yang diangkut Pertamina Pride rencananya akan dikirim ke kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah, setelah kapal berhasil keluar dari Selat Hormuz.

Terpisah, Baron mengonfirmasi bahwa kapal Gamsunoro sudah keluar dari Selat Hormuz. Hal ini merupakan hasil koordinasi intensif antara Pertamina dan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Sebelumnya, PT Pertamina International Shipping (PIS) mengonfirmasi bahwa VLCC Gamsunoro telah berangkat dari Teluk Persia pada 24 Juni pukul 01.06 waktu Dubai. Kapal tiba di mulut Selat Hormuz pukul 13.00 waktu setempat dan berhasil keluar sekitar empat jam kemudian, lalu mencapai titik aman untuk melanjutkan perjalanan ke Indonesia.

Selama perjalanan, kapal dipantau 24 jam oleh PIS. Awak kapal terus berkoordinasi dengan petugas di pusat krisis perusahaan di darat untuk memastikan keselamatan mereka.

PIS menyebut keberhasilan Gamsunoro keluar dari Selat Hormuz sebagai prestasi mereka dalam menjaga operasi di tengah ketegangan geopolitik di titik energi paling strategis tersebut.

MEMBACA  Surface Microsoft yang Sama Saya Beli 4 Bulan Lalu, Kini 69% Lebih Mahal—Ini Penyebabnya

Tinggalkan komentar