Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana memulai revitalisasi kawasan Pasar Baru, Glodok, Pecinan, dan Kota Tua pada pertengahan 2026. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali distrik bersejarah sekaligus mendongkrak kegiatan ekonomi dan pariwisata di ibu kota.
“Jadi, di pertengahan tahun ini, kami akan mulai merapikan dan mengerjakan Pasar Baru, Glodok, Pecinan, dan Kota Tua,” ucap Gubernur Jakarta Pramono Anung saat ditemui di Jakarta Pusat pada Kamis.
Namun, Pramono mencatat bahwa revitalisasi Pasar Baru tidak dapat dimulai segera, karena pemerintah provinsi masih memprioritaskan penyelesaian proyek MRT.
“Fokus kami saat ini adalah menyelesaikan MRT. Mungkin dalam beberapa minggu ke depan, atau minggu depan, kita akan mulai groundbreaking proyek MRT di area Duta Merlin,” jelasnya.
Sebelumnya, pada Juni 2025, Pramono meninjau Pasar Baru dan menyatakan kawasan itu akan mengalami revitalisasi besar. Dia menekankan perlunya menghidupkan kembali distrik belanja bersejarah ini, karena jumlah pengunjungnya sudah menurun.
“Setelah kami berhasil merevitalisasi Blok M dan sudah ramai lagi, berikutnya adalah Pasar Baru,” kata Pramono.
Menurutnya, Pasar Baru masih terlihat ketinggalan zaman dan kurang tertata, baik dari segi visual maupun infrastruktur pendukungnya. Diperlukan perbaikan komprehensif yang mencakup akses transportasi, fasilitas parkir, dan kebersihan sungai yang mengalir di kawasan tersebut.
Salah satu konsep utama rencana revitalisasi adalah memposisikan Pasar Baru sebagai pusat oleh-oleh khas Jakarta sekaligus destinasi wisata belanja.
Lokasinya yang strategis dekat dengan Gedung Kesenian Jakarta, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, dan Istana Presiden membuat kawasan ini sangat cocok untuk dikembangkan kembali.
Untuk meningkatkan aksesibilitas, Pemprov DKI berencana membuka rute Transjakarta baru, termasuk layanan dari Blok M dan Tebet menuju Pasar Baru, serta rute strategis lainnya di seluruh kota.
Terkait pendanaan, Pramono menekankan bahwa revitalisasi ini tidak hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jakarta.
Pemerintah sedang mencari kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan berencana mengoptimalkan aset yang ada, termasuk fasilitas parkir milik pemerintah yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Pasar Baru, yang berdiri sejak 1820, adalah distrik belanja tertua di Jakarta. Tempat ini pernah menjadi pusat perbelanjaan prestisius bagi orang Eropa dan sering disebut “Little India” karena banyaknya pedagang India, khususnya tekstil, dan Tionghoa yang berbisnis di sana.
Berita terkait: Kementerian resmikan Kelenteng Toasebio sebagai cagar budaya
Pasar Baru dibangun pada era kolonial Belanda untuk melayani area elit Rijswijk, yang sekarang menjadi Jalan Veteran, setelah pusat administrasi kolonial pindah ke Weltevreden.
Weltevreden sendiri merupakan kawasan bersejarah yang pernah menjadi pusat administrasi, sosial, dan budaya bagi elit Eropa pada masa kolonial Belanda. Dikembangkan pada awal abad ke-19 sebagai “ibu kota baru” Batavia menggantikan kota tua yang terlalu padat, Weltevreden mencakup area seperti Pasar Baru, Sawah Besar, Gambir, dan Lapangan Banteng.
Kawasan ini dikenal dengan arsitektur klasiknya, taman yang luas, dan bangunan ikonik, termasuk Gedung Kesenian Jakarta.
Nama Weltevreden, yang berarti “suasana tenang dan menyenangkan” dalam bahasa Belanda, mencerminkan tujuannya semula sebagai kawasan permukiman yang nyaman bagi kalangan atas.
Hingga saat ini, Pasar Baru tetap berdiri sebagai bukti hidup akulturasi budaya antara komunitas Tionghoa dan Eropa, yang telah lama dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil, rempah, dan kuliner.
Bangunan-bangunan bersejarahnya yang terawat terus berfungsi sebagai landmark kota, menjaga relevansi Pasar Baru sebagai destinasi wisata belanja nostalgia dan kuliner di Jakarta.
Berita terkait: Jakarta akan berikan insentif baru pekerja, termasuk transportasi gratis
Penerjemah: Lifia Mawaddah Putri, Primayanti
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026