Jadi Penjaga Ruang Digital Indonesia

Minggu, 26 April 2026 – 23:56 WIB

Jakarta, VIVA – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid ngajak generasi muda, terutama lulusan perguruan tinggi, untuk jadi penjaga ruang digital Indonesia.

“Di era post-truth, tantangan kita bukan lagi soal akses informasi, tapi kualitasnya. Karena itu, para wisudawan harus bisa berperan sebagai agen perubahan dan jadi pandu literasi digital di daerah masing-masing,” kata dia.

Informasi yang deras di era digital bikin tantangan baru, yaitu banjir informasi bahkan muncul misinformasi. Maka dari itu, lulusan perguruan tinggi dituntut aktif, gak cuma sebagai pengguna teknologi tapi juga agen perubahan yang jaga kualitas informasi di ruang digital.

Menkomdigi bilang pemerintah udah ambil langkah tegas buat ngurangin risiko paparan konten negatif lewat regulasi yang adaptif, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak (PP Tunas). Aturan ini batasin akses platform digital berisiko buat anak di bawah 16 tahun.

“Kami mau ngasih tau ke para wisudawan dan wisudawati untuk juga jadi duta-duta Tunas yang bisa bantu pemerintah jaga keberlangsungan anak-anak kita. Biar mereka bisa hidup di ranah digital, dapet yang terbaik, dan ngeluarin yang mudarat,” jelas Meutya.

Tingginya tingkat adopsi teknologi di Indonesia jadi kekuatan sekaligus tantangan. Di satu sisi itu nunjukin adaptasi yang tinggi, tapi di sisi lain masyarakat butuh penguatan literasi digital dan kesadaran etika dalam pakai teknologi, termasuk soal kecerdasan buatan atau AI.

Pengelolaan ruang digital nasional, kata Menkomdigi, bertumpu pada prinsip kehati-hatian dan keterjagaan. Negara memastikan pemanfaatan teknologi dilakukan dengan perhatiin aspek keamanan, transparansi, dan kepentingan manusia.

MEMBACA  Kinerja ASML di Q2 Melebihi Ekspektasi, tapi Pesanan yang Lemah Jadi Sorotan Bernstein

“Kita tetap harus hati-hati biar adopsi AI diikuti dengan rasa tanggung jawab, rasa aman, etika, transparansi, dan orientasi ke kepentingan manusia. Jadi, meregulasi dengan ketat itu salah satu cara kita ngamanin tanpa bermusuhan sama inovasi,” ujar Meutya.

Ia juga negesin kalo negara gak bisa kerja sendiri ngadepin tantangan era digital, butuh kolborasi semua elemen, termasuk anak muda. Meutya ngingetin lulusan perguruan tinggi kalo tanggung jawab mereka gak cuma sampe prestasi akademik, tapi justru mulai saat mereka terjun ke masyarakat dengan misi jaga dan bangun ruang digital Indonesia yang lebih aman, beretika, dan berdaya saing. (Ant)

Tinggalkan komentar