Jakarta (ANTARA) – Saat masyarakat internasional memperingati Hari Kanker Sedunia setiap 4 Februari, Indonesia meningkatkan upayanya untuk memerangi kanker serviks; salah satu penyebab utama kematian di kalangan perempuan Indonesia.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit ini merenggut nyawa lebih dari 340.000 wanita setiap tahunnya. Yang mengkhawatirkan, sekitar 90 persen dari kematian ini terjadi di negara-negara berkembang.
Di Indonesia, kanker serviks adalah kanker paling umum kedua yang membunuh wanita Indonesia setelah kanker payudara.
Laporan Globocan 2022 dari Badan Internasional WHO untuk Penelitian Kanker mengungkapkan bahwa negara ini mencatat sekitar 36.964 kasus baru, dengan lebih dari 20.000 wanita kehilangan nyawa karena penyakit ini setiap tahun.
Angka kejadian kanker serviks per 100.000 penduduk di Indonesia adalah 23,3, lebih rendah dari kanker payudara yang memiliki angka kejadian 41,8. Sementara itu, angka kematian per 100.000 penduduk adalah 13,2, lebih rendah dari angka kematian akibat kanker payudara, yaitu 14,4.
Angka-angka ini menunjukkan fakta bahwa kanker serviks dianggap luas sebagai salah satu bentuk kanker yang paling dapat dicegah dan disembuhkan – asalkan terdeteksi lebih awal.
Dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, menekankan bahwa kanker serviks relatif lebih mudah untuk dieliminasi melalui deteksi dini dan intervensi di kalangan wanita aktif secara seksual berusia 30 hingga 59 tahun.
“Skrining untuk deteksi dini sangat penting untuk mencegah kanker berkembang ke stadium yang lebih lanjut. Peluang bertahan hidup jauh lebih tinggi ketika sebuah kasus terdeteksi dan diobati lebih awal,” ujarnya kepada ANTARA.
Kanker serviks di Indonesia dikaitkan dengan angka kematian yang sangat tinggi, terutama karena tingkat skrining yang tidak memadai; 70 persen kasus biasanya terdeteksi pada stadium lanjut.
Oleh karena itu, mulai tahun ini, Kementerian Kesehatan mengintensifkan skrining untuk kanker serviks menggunakan prosedur pengambilan sampel mandiri Human Papillomavirus Deoxyribonucleic Acid (HPV DNA).
Menargetkan 1,5 juta wanita di tanah air, prosedur ini dapat dilakukan secara mandiri dengan memungkinkan individu untuk mengambil sampel vagina menggunakan kit swab atau sikat khusus.
Sampel sel serviks akan dibawa ke laboratorium untuk dites HPV.
Tes HPV DNA ini termasuk dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pemerintah, yang dapat digunakan secara rutin setiap tahun oleh seluruh warga Indonesia untuk deteksi dini penyakit dan faktor risiko, serta meningkatkan kualitas hidup.
Nyaman dan Akurat
Pada tahun 2025, berdasarkan data pemerintah, sekitar 666.000 wanita telah menjalani tes HPV DNA. Dari jumlah tersebut, 4 persen (sekitar 23.000 wanita) dinyatakan positif HPV.
Provinsi dengan cakupan skrining kanker serviks tertinggi pada 2025 adalah Jakarta (89.000), Jawa Tengah (161.000) dan Jawa Barat (87.000).
Namun, Siti Nadia menyoroti rendahnya tingkat pengobatan. Dari hasil skrining, hanya 155 wanita yang dirujuk untuk pengobatan.
Dia juga mencatat banyak tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan dalam mendorong para wanita ini untuk melakukan tindak lanjut.
Dengan memasukkan tes HPV DNA ke dalam program CKG, skrining diharapkan dapat dilakukan pada lebih banyak wanita Indonesia, sehingga mengurangi jumlah kasus.
Berdasarkan studi di Surabaya yang dilakukan Kemenkes dan mitra—termasuk Jhpiego, Biofarma, dan Roche—prosedur HPV-DNA menggunakan swab memiliki akurasi tinggi, dengan tingkat tidak valid hanya 1,1 persen.
Selain sangat akurat, tes ini juga dianggap lebih nyaman karena setiap orang dapat melakukannya secara mandiri—sehingga mengatasi rasa malu yang sering dirasakan wanita saat pemeriksaan kesehatan.
Tes ini sama efektifnya dengan sampel yang diambil oleh klinisi, yang secara signifikan meningkatkan tingkat partisipasi.
Dalam upaya memperluas cakupan pengujian sampel mandiri HPV, Kementerian Kesehatan bersama mitra telah melaksanakan proyek percontohan pada 2025 di beberapa wilayah, termasuk Surabaya, Sidoarjo, Depok, Jakarta, dan Jayapura.
Prosedur ini juga diperkenalkan di Bukittinggi, Surakarta, Maluku Tenggara, Jayapura, dan Penajam Paser Utara, dengan sekitar 1.000 peserta.
Selain memperluas layanan tes HPV di fasilitas kesehatan primer, pemerintah melakukan edukasi tentang pentingnya skrining melalui tenaga kesehatan dan kampanye.
Pemerintah menganggap skrining HPV DNA sangat penting untuk mendeteksi infeksi HPV sebelum kanker berkembang, meningkatkan peluang kesembuhan dengan memastikan pengobatan dini, dan mendukung target nasional eliminasi kanker serviks pada 2030.
Vaksinasi
Selain mengintensifkan skrining dan pengobatan, pemerintah Indonesia memasukkan target vaksinasi HPV 90 persen untuk anak laki-laki dan perempuan, dalam Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Serviks 2023-2030.
"Tujuannya adalah agar setidaknya 90 persen anak perempuan dan laki-laki di tanah air divaksinasi HPV sebelum usia 15 tahun pada 2030," kata Direktur Imunisasi kementerian, Prima Yosephine.
Dalam program imunisasi, jelasnya, pemerintah memberikan satu dosis vaksin kepada semua anak perempuan di kelas 5 SD, atau yang berusia 11 tahun, dengan pendekatan yang sama berlaku untuk anak yang tidak bersekolah.
Jika seorang anak melewatkan imunisasi pada usia 11 tahun, imunisasi dapat dikejar di kelas 6 SD, atau di kelas 9 SMP, atau saat menginjak usia 15 tahun.
Program imunisasi juga akan menyasar anak laki-laki usia sekolah mulai 2026, dengan dosis yang sama seperti anak perempuan: satu suntikan pada usia 11 tahun atau di kelas 5 SD.
Strategi ini akan dilaksanakan secara bertahap, dimulai tahun ini di tiga provinsi terlebih dahulu dan secara bertahap diluncurkan ke seluruh Indonesia.
Studi menunjukkan bahwa vaksin HPV sangat efektif, berpotensi mencegah lebih dari 90 persen kanker terkait HPV dengan menargetkan tipe risiko tinggi 16 dan 18, yang menyebabkan sebagian besar kanker serviks; serta tipe 6 dan 11, yang menyebabkan kutil kelamin.
WHO merekomendasikan vaksinasi untuk anak perempuan usia 9-14 tahun sebelum paparan seksual, dengan studi menunjukkan kemanjuran 91-100 persen dalam mencegah infeksi HPV 16/18.
Tentu saja, upaya-upaya ini harus didukung dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya HPV, menghilangkan stigma atau tabu seputar penyakit ini, serta memberikan dukungan penuh dari keluarga bagi pasien yang menjalani pengobatan.
Berita terkait: Upaya Indonesia tangani kanker serviks lewat deteksi dini
Berita terkait: Indonesia targetkan 90% anak divaksin HPV pada 2030
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026